skip to main | skip to sidebar

Coretan Dinding

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)


Oleh : Husein Ja'far 

Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakni pada tanggal 10 Muharram. Namun, tradisi itu merekam tragedi itu sejak Sayyidina Husain mengawali perjalanannya di tanggal 1 Muharram. Pasalnya, secara historis-religius, 9 hari perjalanan Sayyidina Husain menuju Karbala bernilai historis dan religius yang penting dan mendalam. Dalam rangkaian perjalanan itu, ada sederet hikmah religius tentang kepemimpinan, perjuangan, perdamaian, perubahan, dll yang merupakan nilai-nilai dasar dalam Islam. Karenanya, setiap detik dalam hari-hari perjalanan itu patut dihayati dan direnungkan sebagai hikmah dalam Islam yang diturunkan Alah melalui perjuangan Sayyidina Husain. Dan, masyarakat budaya Tabot merangkum 9 hari perjalanan itu dalam 9 simbol budaya yang kemudian membentuk tradisi Tabot.

Pertama, mengambik tanah (mengambil tanah). Tanah yang diambil dalam prosesi ini merupakan tanah yang dianggap keramat (sebagai simbolisasi dari Tanah Karbala). Ritual ini juga menyiratkan pesan kepada manusia agar selalu mengingat asal penciptaannya yang tak lain dari tanah.

Kedua, duduk penja (mencuci jari-jari) merupakan simbolisasi dari ketangkasan Sayyidina Husain dalam memperjuangkan Islam dengan tangan dan jari-jarinya hingga beliau wafat dalam keadaan kepala terpenggal. Ritual ini dilakukan setiap tanggal 4 Muharram yang tak lain merupakan simbolisasi dari doktrin Islam yang menganjurkan setiap orang untuk memandikan jenazah saudaranya yang telah wafat, sebelum dimakamkan. Secara khusus, duduk penja merupakan simbolisasi memandikan jenazah Sayyidina Husain yang saat itu jenazahnya bahkan tak dimandikan.

Ketiga, menjara (berkunjung) yang berisi nilai-nilai akhlak. Dalam ritual ini, setiap tanggal 6 dan 7 Muharram, masyarakat budaya Tabot dianjurkan saling mengunjungi kerabat merekauntuk mempererat tali silaturrahmi.

Keempat, meradai (mengumpulkan dana). Ritual ini dilakukan pada 6 Muharram sebagai simbolisasi solidaritas sosial-ekonomi sesama manusia, khususnya antara masyarakat budaya Tabot di sana.

Kelima, arak penja (mengarak jari-jari) dilakukan setiap tanggal 8 Muharram sebagai simbolisasi atas anjuran bersikap damai dan memafkan dalam Islam. Sebab, kala itu Sayyidina Husain sebenarnya tak datang untuk berperang, tapi berdamai. Hanya saja, kekejaman tentara Yazid yang telah dibutakan oleh kekuasaan telah menjadikan mereka begitu sadis membantai Sayyidina Husain hingga jari-jarinya terpisah dari tangannya. Melalui ritual arak penja, masyarakat budaya Tabot mensyiarkan agar tragedi semacam itu tak lagi ada dalam sejarah Islam.

Keenam, arak sorban (mengarak sorban). Sorban yang diarak dalam ritual ini merupakan duplikat dari sorban yang dipakai Sayyidina Husain. Sorban di sini merupakan simbol kebenaran. Sehingga, ritual itu dipahami sebagai simbolisasi menjunjung tinggi perjuangan mempertahankan kebenaran, seperti yang ditunjukkan oleh Sayyidina Husain.

Ketujuh, gam (masa tenang). Ritual ini dilakukan sehari sebelum hari wafatnya Sayyidina Husain, yaitu pada 9 Muharram. Pada hari itu, tak ada kegiatan apapun dalam ritual Tabot. Sebab, hari itu dipahami sebagai hari keprihatinan dan berkabung atas kematian yang akan menjemput saudara Muslim bernama Sayyidina Husain pada keeeokan harinya. Menurut Husain Bahreisj (1987), ritual ini merupakan aplikasi dari hadist Nabi yang berbunyi;“Sesama Muslim adalah saudara bagai satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya juga akan merasakan sakitnya.”. Melalui ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharap akan merasakan keprihatinan yang terjadi pada rombongan Sayyidina Husain beserta keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala berabad-abad lalu.

Kedelapan, arak gedang (pawai besar). Ini merupakan momentum bertemunya seluruh gerga (kelompok peserta upacara Tabot) di Jalan Protokol dan berjalan bersama menuju Lapangan Merdeka. Ritual ini menyimbolkan anjuran persatuan dan merapatkan barisan dalam satu pawai besar bagi umat Islam dalam melumpuhkan musuh-musuh Islam dan memperjuangkan Islam dengan semanagat juang tinggi yang disimboisasi dengan penabuhan dol(gendang) sebagai penyemangat.

Kesembilan, tabot tebuang. Ini merupakan prosesi terakhir dalam rangkaian upacara Tabot yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram. Ritual ini merupakan simbolisasi masyarakat budaya Tabot dalam mengkafani, menyalatkan dan menguburkan Sayyidina Husain yang kala itu tak dikafani, tak disalati dan tak dikuburkan oleh pasukan Yazid. Dalam ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharapkan dapat menghayati nilai-nilai dan ajaran Islam tentang bagaimana memperlakukan jenazah Muslim secara kemanusiaan dan sesuai tuntunan Islam.

Ritual terakhir tersebut dilakukan di Pemakaman Umum Karbela di kawasan Padang Jati, Bengkulu, tempat dimakamkannya Syekh Burhanuddin (atau lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo di Bengkulu), pelopor tradisi Tabot itu sendiri. Menurut DR. Harapandi Dahri (2009), mengutip dari Ir. A Syafril Syah (Ketua Kerukunan Keluarga Tabot), nama Karbela itu juga sengaja diadopsi dan ditiru dari nama Karbala di Irak, tempat kematian Sayyidina Husain. Hal itu dilakukan agar masyarakat budaya Tabot selalu mengenang Tragedi Karbala dan berharap kawasan itu menjadi pusat dakwah dan budaya Islam.***

* Husein Ja'far Al-Hadar adalah Peminat Studi Keagamaan & Filsafat dan Penulis buku "Islam "Madzhab" Fadlullah"
Dimuat mizan.com

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners


ads







Blog Archive

  • ▼  2014 (1)
    • ▼  September (1)
      • Perlunya Ilmu Kematian
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Followers

TopMenu

  • Beranda
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
  • Suro dan Kesakten
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
  • Tipologi Kemerdekaan

Jendela Dinding

Coretlah apapun
Jikapun ditanya
jawabnya "tidak tahu"
Sampai lelah mencoret dinding

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Post

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • MENGENANG IRAK, MEWASPADAI SURIAH
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*) Dalam The Future of Islam (terj: Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan denga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Perlunya Ilmu Kematian
    Perlunya Ilmu Kematian Oleh : Emha Ainun Najib Engkau tentu ingat bahwa puasa terkadang dipakai sebagai alat politik. Sering baca ...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Racun Penawar
    Seikat rerumputan yang arbitrer Terlihat jelas daun kering kerontang Seisap racun penawar gelisah Semakin tak menentu perlawanan a...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Janganlah “T” Walau bukan “Y”
    Janganlah “T” Walau bukan “Y” Mengapa tak kau biarkan diriku mengambang di antara “Ya atau Tidak”, itulah yang akan kudapat Tapi ...

Mengenai Saya

Coretan dinding
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Statistik

Iklan

@coretan2dinding

Blog Archive

  • ▼  2014 (1)
    • ▼  September (1)
      • Perlunya Ilmu Kematian
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Cari Blog Ini

Postingan Populer

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
    Oleh : Husein Ja'far  Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakn...
  • Suro dan Kesakten
    Bulan Suro merupakan berbagai intisari dari embrio keluhuran masyarakat Jawa. Karena juga awal bulan dalam pergantian Tahun dan semua rum...
  • Mustahil
    Mustahil Mustahil Mungkin itulah men-jadi Mustahil Hilangnya ke-aku-an Mustahil Tantangan dan lecut Mustahil Tak mengena...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Mempertimbangkan Tuhan-nya Anak-anak
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar* Ironisnya, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin anak-anak terkait perkara teologis, sebag...

Langganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com