Oleh : Emha Ainun Najib
Engkau tentu ingat bahwa puasa
terkadang dipakai sebagai alat politik.
Sering baca koran beita
tentang orang mogok makan?
Mogok makan adalah senjata politik pamungkas, suatu jenis political pressure, sesudah cara lain, misalnya perlawanan kekuasaan, pemberontakan militer, dan lain sebagainya, tidak mempan atau tidak mampu membawa pelakunya memperoleh apa yang dikehendakinya.
Mogok makan juga bisa disebut suatu pola perjuangan moral. Artinya, dengan mogok makan, seseorang mencoba menyentuh moralitas pihak yang dilawannya untuk menuhi tuntutan-tuntutannya. Kenapa dengan mogok makan? Karena tujuan mogok makan sesungguhnya adalah mati. Kalau penguasa membiarkan seorang pemrotes mati karena mogok makan, ia akan dicatat sejarah sebagai manusia tak bermoral. Tapi sayang seribu sayang, banyak penguasa tak peduli pada cap amoral atau stempel kebiadaban di jidatnya.
Banyak pemogok makan dibiarkan saja sampai sejauh-jauh penderitaanya, karena kalau sekadar ada orang mati karena mogok makannya sendiri, apa istimewanya? Sedangkan ada orang mati karena ditumpas oleh aparat kekuasaan pun sudah tidak takut dicap tidak bermoral, lha wong penguasa itu sudah sangat banyak melakukan perbuatan yang jauh lebih biadab dibanding itu.
Dan biasanya, para pemogok makan lantas juga tidak ber-istiqamah. Ia membatalkan mogoknya di tengah protes. Bahkan di Yogya pernah ada mahasiswa yang mogok makannya sekadar mogok makan nasi, sehingga ia membolehkan dirinya makan hamburger atau makanan lainnya. Maka tujuan politiknya tidak tercapai. Metode pressure-nya tidak efektif, kecuali sekadar membuat penguasa tertawa terpingkal-pingkal belaka.
***
Sekarang proyeksinya kepada kenyataan bahwa sampai konteks tertentu, mogok makan itu mirip dengan puasa. Letak kekuatan puasa adalah karena kalau ia tidak dibatasi, maka akan menghasilkan kematian. Mungkin engkau kuat berpuasa 40 hari 40 malam dan menjadi pendekar mumpuni. Atau engkau adalah seorang biksu di sebuah gua di Thailand yang lebih dari tiga tahun hanya bersila tanpa makan minum.
Hal terakhir itu memiliki hitungan rasionalitasnya sendiri dan memerlukan penjelasan tersendiri pula. tetapi kita memakai pengetahuan normal saja bahwa puasa total selama jangka waktu tertentu akan menghantarkan pelakunya kepada maut.
Maka dari sudut semacam itu engkau bisa menemukan salah satu definisi atau fungsi puasa: ialah jalan menuju kematian fisik. kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar, dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.
Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bisa mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.
***
Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi--katakanlah--kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.
Sebaiknya, kenyang dalam arti sosial budaya, pemilikan harta yang berlebihan, kekuasaan yang berlebihan, kemenangan yang terlalu mutlak, sesungguhnya unsur-unsur tertentu di dalam diri para pelakunya, pemilikan harta yang berlebihan akan membuat pelakunya dalam kehilangan standar kelayakan hidup, akan mungkin mengurung pelakunya dalam keterbudakan oleh keserakahan, oleh rasa tidak cukup yang tak habis-habisnya. Kekuasaan yang terlalu lama juga akan mematikan kewajaran pelakunya, karena ia terpenjara oleh akibat-akibat dan ancaman-ancaman yang berada di depannya yang berasal dari kekuasaanyayang berlebih.
Jadi, baik kaya atau miskin, kenyang atau lapar, punya atau tidak punya, semuanya ini diikat oleh disiplin batas, agar tidak mencenderungi kematian. Kesadaran tentang batas inilah yang antara lain diajarkan oleh kandungan hikmah puasa. Hakikat puasa adalah menahan diri. Menahan diri adalah kesanggupan menciptakan batas-batas dalam suatu perbuatan.
Kesadaran utama dalam kehidupan adalah kesadaran tentang kematian, karena alamat kematian adalah pada garis akhir kehidupan. Yang paling pokok harus diurus oleh manusia bukanlah kebebasan, melainkan batas-batas. Dengan kata lain, pelajaran utama tentang kehidupan sebenarnya adalah bagaimana menyadari kematian.
Dan apakah gerangan pasal terpenting dari ilmu kematian ? Ialah kesadaran bahwa semua milikmu yang bersifat duniawi itu tidak bisa engkau bawa masuk ke kuburan. Artinya, kenapakah engkau menghabiskan pikiran, tenaga, usia, serta hiasan iri, dengki, dan nafsu itu untuk menumpuk sesuatu yang tidak bisa engkau angkut ke keabadian di masa datang? Kenapakah tidak engkau lakukan dan cari saja segala sesuatu yang bisa engkau bawa ke hadapan Allah? Apakah aku melarangmu untuk kaya? Tidak. Kayalah, dan amal salehkanlah.
Diambil dari Buku : Tuhanpun Berpuasa Hal. 131-134
Penerbit : Buku Kompas, Juni 2012 PT Kompas Media Nusantara

