skip to main | skip to sidebar

Coretan Dinding

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Rabu, 03 September 2014

Perlunya Ilmu Kematian

Diposting oleh Coretan dinding di 20.56
Perlunya Ilmu Kematian
Oleh : Emha Ainun Najib

Engkau tentu ingat bahwa puasa
terkadang dipakai sebagai alat politik.
Sering baca koran beita
tentang orang mogok makan?

Mogok makan adalah senjata politik pamungkas, suatu jenis political pressure, sesudah cara lain, misalnya perlawanan kekuasaan, pemberontakan militer, dan lain sebagainya, tidak mempan atau tidak mampu membawa pelakunya memperoleh apa yang dikehendakinya.

Mogok makan juga bisa disebut suatu pola perjuangan moral. Artinya, dengan mogok makan, seseorang mencoba menyentuh moralitas pihak yang dilawannya untuk menuhi tuntutan-tuntutannya. Kenapa dengan mogok makan? Karena tujuan mogok makan sesungguhnya adalah mati. Kalau penguasa membiarkan seorang pemrotes mati karena mogok makan, ia akan dicatat sejarah sebagai manusia tak bermoral. Tapi sayang seribu sayang, banyak penguasa tak peduli pada cap amoral atau stempel kebiadaban di jidatnya.

Banyak pemogok makan dibiarkan  saja sampai sejauh-jauh penderitaanya, karena kalau sekadar ada orang mati karena mogok makannya sendiri, apa istimewanya? Sedangkan ada orang mati karena ditumpas oleh aparat kekuasaan pun sudah tidak takut dicap tidak bermoral, lha wong penguasa itu sudah sangat banyak melakukan perbuatan yang jauh lebih biadab dibanding itu.

Dan biasanya, para pemogok makan lantas juga tidak ber-istiqamah. Ia membatalkan mogoknya di tengah protes. Bahkan di Yogya pernah ada mahasiswa yang mogok makannya sekadar mogok makan nasi, sehingga ia membolehkan dirinya makan hamburger atau makanan lainnya. Maka tujuan politiknya tidak tercapai. Metode pressure-nya tidak efektif, kecuali sekadar membuat penguasa tertawa terpingkal-pingkal belaka.

***
Sekarang proyeksinya kepada kenyataan bahwa sampai konteks tertentu, mogok makan itu mirip dengan puasa. Letak kekuatan puasa adalah karena kalau ia tidak dibatasi, maka akan menghasilkan kematian. Mungkin engkau kuat berpuasa 40 hari 40 malam dan menjadi pendekar mumpuni. Atau engkau adalah seorang biksu di sebuah gua di Thailand yang lebih dari tiga tahun hanya bersila tanpa makan minum.

Hal terakhir itu memiliki hitungan rasionalitasnya sendiri dan memerlukan penjelasan tersendiri pula. tetapi kita memakai pengetahuan normal saja bahwa puasa total selama jangka waktu tertentu akan menghantarkan pelakunya kepada maut.

Maka dari sudut semacam itu engkau bisa menemukan salah satu definisi atau fungsi puasa: ialah jalan menuju kematian fisik. kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar, dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.

Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bisa mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.

***

Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi--katakanlah--kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.

Sebaiknya, kenyang dalam arti sosial budaya, pemilikan harta yang berlebihan, kekuasaan yang berlebihan, kemenangan yang terlalu mutlak, sesungguhnya unsur-unsur tertentu di dalam diri para pelakunya, pemilikan harta yang berlebihan akan membuat pelakunya dalam kehilangan standar kelayakan hidup, akan mungkin mengurung pelakunya dalam keterbudakan oleh keserakahan, oleh rasa tidak cukup yang tak habis-habisnya. Kekuasaan yang terlalu lama juga akan mematikan kewajaran pelakunya, karena ia terpenjara oleh akibat-akibat dan ancaman-ancaman yang berada di depannya yang berasal dari kekuasaanyayang berlebih.

Jadi, baik kaya atau miskin, kenyang atau lapar, punya atau tidak punya, semuanya ini diikat oleh disiplin batas, agar tidak mencenderungi kematian. Kesadaran tentang batas inilah yang antara lain diajarkan oleh kandungan hikmah puasa. Hakikat puasa adalah menahan diri. Menahan diri adalah kesanggupan menciptakan batas-batas dalam suatu perbuatan.

Kesadaran utama dalam kehidupan adalah kesadaran tentang kematian, karena alamat kematian adalah pada garis akhir kehidupan. Yang paling pokok harus diurus oleh manusia bukanlah kebebasan, melainkan batas-batas. Dengan kata lain, pelajaran utama tentang kehidupan sebenarnya adalah bagaimana menyadari kematian.

Dan apakah gerangan pasal terpenting dari ilmu kematian ? Ialah kesadaran bahwa semua milikmu yang bersifat duniawi itu tidak bisa engkau bawa masuk ke kuburan. Artinya, kenapakah engkau menghabiskan pikiran, tenaga, usia, serta hiasan iri, dengki, dan nafsu itu untuk menumpuk sesuatu yang tidak bisa engkau angkut ke keabadian di masa datang? Kenapakah tidak engkau lakukan dan cari saja segala sesuatu yang bisa engkau bawa ke hadapan Allah? Apakah aku melarangmu untuk kaya? Tidak. Kayalah, dan amal salehkanlah.

Diambil dari Buku : Tuhanpun Berpuasa Hal. 131-134
Penerbit : Buku Kompas, Juni 2012 PT Kompas Media Nusantara
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners


ads







Blog Archive

  • ▼  2014 (1)
    • ▼  September (1)
      • Perlunya Ilmu Kematian
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Followers

TopMenu

  • Beranda
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
  • Suro dan Kesakten
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
  • Tipologi Kemerdekaan

Jendela Dinding

Coretlah apapun
Jikapun ditanya
jawabnya "tidak tahu"
Sampai lelah mencoret dinding

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Post

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • MENGENANG IRAK, MEWASPADAI SURIAH
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*) Dalam The Future of Islam (terj: Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan denga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Perlunya Ilmu Kematian
    Perlunya Ilmu Kematian Oleh : Emha Ainun Najib Engkau tentu ingat bahwa puasa terkadang dipakai sebagai alat politik. Sering baca ...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Racun Penawar
    Seikat rerumputan yang arbitrer Terlihat jelas daun kering kerontang Seisap racun penawar gelisah Semakin tak menentu perlawanan a...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Janganlah “T” Walau bukan “Y”
    Janganlah “T” Walau bukan “Y” Mengapa tak kau biarkan diriku mengambang di antara “Ya atau Tidak”, itulah yang akan kudapat Tapi ...

Mengenai Saya

Coretan dinding
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Statistik

Iklan

@coretan2dinding

Blog Archive

  • ▼  2014 (1)
    • ▼  September (1)
      • Perlunya Ilmu Kematian
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Cari Blog Ini

Postingan Populer

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
    Oleh : Husein Ja'far  Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakn...
  • Suro dan Kesakten
    Bulan Suro merupakan berbagai intisari dari embrio keluhuran masyarakat Jawa. Karena juga awal bulan dalam pergantian Tahun dan semua rum...
  • Mustahil
    Mustahil Mustahil Mungkin itulah men-jadi Mustahil Hilangnya ke-aku-an Mustahil Tantangan dan lecut Mustahil Tak mengena...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Mempertimbangkan Tuhan-nya Anak-anak
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar* Ironisnya, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin anak-anak terkait perkara teologis, sebag...

Langganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com