Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*)
Dalam The Future of Islam (terj: Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat diterbitan oleh Mizan pada 2010), John L. Esposito berkisah tentang sebuah acara televisi di AS pada 2005. Acara yang dipandu oleh John Stewart itu memperlihatkan bagaimana para pejabat tinggi FBI tidak bisa menjawab berbagai pertanyaan sangat mendasar mengenai Islam. Bahkan, bukan hanya mengakui ketidaktahuannya, lebih buruk lagi; mereka sejak awal melepaskan keingintahuan untuk tahu tentang Islam.
Setahun kemudian, kepada para pejabat kontraterorisme AS dan anggota Kongres, John Stewartt dalam sebuah tayangan yang sama mengajukan pertanyaan: “Apakah anda tahu tentang perbedaan Sunni dan Syiah?”, Jawabnya: "Tidak tahu." Kenyataan tersebut membuat John Stein, Redaktur Keamanan Nasional untuk Congressional Quarterly di Washington, mengungkapkan; “Sebagian besar pejabat AS (bukan hanya anggota Kongres, tapi juga intelijen dan penegak hukum AS) yang telah saya wawancarai tidak mengetahui apa-apa tentang Islam secara mendasar.”
Hal yang sama juga tercermin dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Gallup (dalam tajuk “Who Speaks for Islam?”) pada 2008 . Saat sebagian warga AS ditanya tentang apa yang mereka kagumi dari Islam? Maka, diperoleh angka; 57 % warga AS menjawab, “tidak ada!” dan “tidak tahu!”.
Semua kisah dan fakta itu tentu mengejutkan bagi siapa saja yang mencita-citakan terjalinnya sebuah hubungan yang harmonis antara dunia Islam dan Barat (khususnya AS). Lebih mengejutkan lagi ketika semua itu dihadapkan pada kenyataan bahwa di tengah minimya informasi soal Islam, dengan dalih untuk menangkap Saddam Hussein yang dituduh memiliki senjata pemusnah massal, AS justru menginvasi Irak. Bagaimana mereka bisa memformulasikan solusi, tanpa sebelumnya tahu tentang masalahnya, atau bahkan tak tahu masalah itu benar-benar ada?
Tak berhenti sampai di sana keterkejutan kita. Hingga saat ini, senjata pemusnah massal yang dijadikan alasan penyerbuan Irak, sama sekali tak pernah terbukti ada (dan sebenarnya memang tak pernah ada). Untuk supaya tidak kehilangan muka, penyerangan ke Irak tersebut kemudian digeser legitimasinya pada isu kediktatoran Saddam dan upaya menegakkan prinsip demokrasi di Negeri 1001 Malam itu. Maka, Francis Fukuyama pun melalui hipotesanya menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan AS dan sekutunya di Irak hanya didasarkan pada alasan-alasan hipokrit yang pada dasarnya benar-benar digerakkan oleh hasrat sepihak AS dan sekutunya untuk menyerang dan menghegemoni Irak dan Timur Tengah dengan tendensi berbagai kepentingan. Pertama, kepentingan AS dan sekutunya untuk merebut sumber-sumber minyak yang ada di Irak. Kedua, kepentingan AS dan sekutunya untuk mengamankan posisi Israel di Timur Tengah dengan menjadikan Irak sebagai basis kekuatan AS dan sekutunya untuk melindungi Israel. Ketiga, kepentingan AS untuk mengendalikan Timur Tengah dengan menjadikan Irak sebagai salah satu basisnya.
Kesimpulan hipotesa Fukuyama itu seolah dikukuhkan ketika pada 17 Desember 2002, Gedung Putih mengeluarkan dokumen penting setebal 31 halaman berjudul "The National Security of the United States of America". Dokumen itu merupakan grand strategy baru AS yang dicanangkan pasca-Perang Dingin. Menurut Charles Krauthmamer dalam Foreign Affairs (September/Oktober 2002), strategi baru itu memiliki tujuh elemen yang pada intinya berisi strategi AS untuk memuluskan hasrat politiknya guna mempertahankan dunia unipolar, dengan AS sebagai kekuatan tak tertandingi. AS tak ingin ada peradaban baru yang kokoh setelah Uni Soviet. Apalagi peradaban baru itu muncul dari dunia Islam. AS tak ingin dunia berjalan di atas prinsip demokrasi, tapi tunduk di bawah visi imperialisme Gedung Putih.
Maka, dalam momentum mengenang sepuluh tahun tragedi invasi AS ke Irak saat ini, kisah invasi itu benar-benar terasa seperti dongeng yang sering kita lihat dari film-film khas Hollywood. Dan, ironisnya, dongeng itu kini sedang diupayakan lagi oleh AS untuk dilekatkan pada sosok Bashar Assad (Presiden Suriah) di Suriah, dengan tuduhan serupa yang sebenarnya telah usang bagi kita yang mengamati trik politik AS selama ini, yakni tuduhan penggunaan senjata kimia.
Tentu, belajar atas tragedi Irak 10 tahun lalu, seharusnya kita tak lagi percaya pada dongeng gubahan AS dan sekutunya atas Suriah itu. Namun, juga belajar atas pengalaman, di tengah pengamalan -bahkan mungkin trauma- akan Irak itu, kita sering kali kembali terkecoh atau bahkan tak berdaya terhadap kedigdayaan AS. Sebagaimana terkecoh dan tak berdayanya kita dijajah film-film Hollywood, dengan segala manipulasi di balik keelokan visualisasinya.
Akhirnya, kita harus tahu dan sadar bahwa ini bukan soal benturan peradaban seperti kata Samuel Huntington. Apalagi bagi siapa saja yang memamahinya sebagai perang agama. Ini juga bukan soal Sunni dan Syiah, seperti menjadi isu dalam internal umat Islam soal Suriah. Ini murni sebuah serangan berbasis hasrat imperialisme dari AS dan sekutunya, untuk menjajah dan memandulkan dunia Islam. Sebab, mereka tahu dan sadar besarnya kekuatan dunia Islam (khususnya di Timur Tengah) jika mereka bersatu. Bahkan, jauh melebihi kekuatan Uni Soviet saat Perang Dingin. Apalagi, perlawanan atas segala penjajahan, penindasan dan segala bentuk ketidakadilan adalah misi utama Islam.
Yang jelas, kita harus terus ingat apa yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib bahwa seorang yang paling merugi adalah ia yang hari ini dilalui tanpa pelajaran atas hari kemarin. Begitu pula kata Qur'an.
*) Esais, Penulis Buku "Islam 'Madzhab' Fadlullah" (Mizan), Diskusi Lebih Lanjut Melalui Akun Twitter Pribadi Penulis di @Husen_Jafar


