skip to main | skip to sidebar

Coretan Dinding

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Jumat, 15 Februari 2013

Islam dan Politik

Diposting oleh Coretan dinding di 03.18

Oleh : Husein Ja’far Al Hadar
Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik 
Di antara sederet manfaat Twitter, salah satunya dirasakan oleh penulis baru-baru ini. Beberapa waktu lalu, penulis asyik terlibat dalam "diskusi virtual" menarik di Twitter dengan Ulil Abshar Abdalla (intelektual Muslim sekaligus pendiri Jaringan Islam Liberal) dan juga Syafiq Basri (jurnalis sekaligus intelektual Muslim). Diskusi itu dimulai dari inisiatif Ulil untuk kultwit (kuliah Twitter; sebuah 'kuliah' khas 'masyarakat' Twitter yang manfaatnya bisa lebih dari kuliah di kampus formal) tentang Islam sebagai agama yang kaffah, kamildan syamil (sempurna dan menyeluruh). 
Melalui kultwit itu, Ulil memaparkan bahwa istilah "Islam kaffah" bersumber dari ideologi Ikhwanul Muslim dan kemudian diikuti oleh kelompok masyarakat Muslim yang sering disebut jamaah tarbiyah (cikal bakal PKS). Sampai di sini, perlu penulis beri catatan bahwa kultwit dan diskusi penulis dengan Saudara Ulil berlangsung jauh hari sebelum mantan Presiden PKS, Lutfi Hasan Ishaq, tertangkap oleh KPK karena dugaan korupsi.

Masih menurut Ulil, istilah Islam kaffah itu digunakan mereka untuk mengokohkan ideologi politik Islamisme-nya. Dalam artian, dengan 'membajak' istilah itu, mereka hendak menegaskan Islam sebagai ideologi (bukan lagi agama) yang sempurna. Nah, politisasi atas istilah itulah yang dikritisi oleh Ulil melalui kultwitnya itu.

Menurut penulis, sebagai kritik terhadap Ikhwanul Muslimin, dkk, kultwit itu sangat tepat dan mengena. Sebab, sebagaimana kritik Faraq Fouda dalam "Al-Haqiqah Al-Ghaybah" (terj: "Kebenaran yang Hilang" (2008), Paramadina), dalam keyakinan mereka, Nabi Muhammad tak pernah melakukan suksesi kepemimpinan. Karenanya, suksesi yang dipilih oleh masing-masing khalifah darikhulafaur rasyidin 'pun berbeda-beda. Sebab, tak ada ketentuan suksesi secara baku dari Nabi Muhammad. Oleh karena itu, dalam twit ke 67-nya, Ulil bertanya, "Jika benar hukum syariat sempurna, seperti diklaim aktivis tarbiyah, mestinya 'kan ada hukum soal suksesi kepemimpinan?"

Sejauh sebagai kritik atas mereka, penulis sendiri setuju dengan pertanyaan Ulil itu. Sebab, dalam keyakinan mereka, suksesi kepemimpinan memang benar-benar tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Namun, jika pertanyaan itu diposisikan sebagai pertanyaan, bukan lagi kritik, maka penulis mulai tak setuju dan terlibat diskusi yang sungguh asyik dan mencerahkan.    

Menurut penulis, dan ini juga diyakini oleh Muslim-Syiah, merujuk pada ayat yang juga dibawa oleh Ulil dalam kultwit itu, yakni Al-Maidah: 3 yang isinya, "Hari ini, Aku (Tuhan) sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku lengkapkan nikmatku untukmu, dan Aku rela Islam sebagai agamamu.", suksesi kepemimpinan dilakukan oleh Nabi Muhammad. Dan, salah satu episode suksesi itu adalah saat ayat itu diturunkan. Ayat itu turun sebagai jawaban atas suksesi kepemimpinan yang telah dilakuakn oleh Nabi Muhammad kepada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Dan, episode sukses kepemimpinan itu diabadikan oleh begitu banyak hadist mutawatir (hadist terpercaya yang periwayatannya sangat kuat) oleh begitu banyak periwayat hadist. Oleh karena itu, keberadaan suksesi itu tak dinafikan oleh ulama Muslim, baik Syiah maupun Sunni. Hanya saja, keduanya beda dalam menafsirkan makna suksesi itu. Jika Syiah menafsir itu suksesi kepemimpinan agama dan politik, tapi Sunni menafsir bahwa itu hanyalah suksesi kepemimpinan agama, sebagaimana juga ditegaskan oleh Ulil dalam salah satu twitnya di rangkaian kultwitnya itu.

Namun, tulisan ini bukan hendak mendiskusikan polemik tentang ada-tidaknya suksesi kepemimpinan itu, serta perbedaan penafsiran atasnya. Menurut penulis, polemik tentang hal itu telah sering terjadi di antara ulama maupun tokoh Islam yang direkam di banyak buku, namun tak pernah ada titik temunya. Masing-masing memiliki keyakinan dan tafsirannya sendiri-sendiri yang bagi penulis keberagaman itu wajib dihargai, dihormati dan dipandang sebagai kekayaan khazanah intelektual Islam. Yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini adalah keyakinan Syiah tentang konsep politik Islam/ Mengapa? Sebab, pandangan dan keyakinan Syiah tentang hal itu relatif berbeda dan bisa menjadi alternatif guna memperkaya khazanah intelektual Islam dan menambah wawasan keislaman kita.

Tentu, berdasar ayat itu dan berbagai hadist pendukungnya yang diriwayatkan secara mutawatir, Syiah meyakini konsep politik Islam di zaman Nabi Muhammad adalah teokrasi (pemimpin dipilih langsung Tuhan melalui nash Qur'an dan ditegaskan oleh lidah suci Nabi-Nya). Karenanya, suksesi kepemimpinan dilakukan langsung oleh Nabi Muhammad berdasarkan perintah Tuhan. Dan, Syiah meyakini pemimpin setelah Nabi Muhammad adalah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, kemudian anaknya yang bernama Sayyidina Hasan, dilanjutkan adik Sayyidina Hasan yang bernama Sayyidina Husainserta terus berlanjut secara turun-temurun hingga imam ke-12 Syiah Imamiyah yang bernama Imam Mahdi.  

Mengapa di zaman para imamnya, Syiah meyakini konsep politik teokrasi? Pertama, karena Syiah meyakini konsep politik teokrasi sebagai konsep politik Islam yang ditopang oleh nash Qur'an dan hadist Nabi yang mutawatir. Kedua, karena Syiah juga meyakini bahwa para imamnya itu adalah manusia suci yang terbebas dari dosa (maksum) dan telah sampai pada puncak kebijaksanaan.Ketiga, karena dalam ajaran Syiah, tak ada konsep pemisahan antara agama dan politik. Bagi Syiah, keduanya integral. Keempat,karena di zamannya masing-masing, para imam Syiah itu juga didukung oleh masyarakat Muslim. Hanya saja, oleh rezim yang berkuasa, baik Bani Umayyah maupun Bani Abbas, para imam itu ditarik dan dijauhkan dari tengah-tengah umat dan rakyat, ditekan, dipenjara dan dibunuh, agar tak dinobatkan rakyat menjadi pemimpin agama sekaligus politik. Singkatnya, keyakinan Syiah akan teokrasi karena mereka memiliki nash dan argumentasi yang kuat yang menegaskan bahwa teokrasi merupakan konsep politik Islam di masa para imam maksum itu.

Namun, sebagaimana ditulis sejarah, para imam itu tak hidup sampai sekarang. Sejak tahun 329 H, imam ke-12 (imam terakhir) Syiah yang bernama Imam Mahdi ghaibah kubro (kegaiban besar). Artinya, sejak saat itu, tak ada lagi sosok imam atau pun wakil definitif imam di muka bumi. Maka, secara otomatis, menurut penulis, teokrasi seperti yang diyakini Syiah di masa hidup para imamnya 'pun tak berlaku. (Bersambung)

*)Pengamat Masalah Keislaman, Penulis Buku "Islam 'Madzhab' Fadlullah" (Mizan), Diskusi Lebih Lanjut Melalui Akun Twitter Pribadi Penulis di @Husen_Jafar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners


ads







Blog Archive

  • ►  2014 (1)
    • ►  September (1)
  • ▼  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Islam dan Politik
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Followers

TopMenu

  • Beranda
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
  • Suro dan Kesakten
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
  • Tipologi Kemerdekaan

Jendela Dinding

Coretlah apapun
Jikapun ditanya
jawabnya "tidak tahu"
Sampai lelah mencoret dinding

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Post

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • MENGENANG IRAK, MEWASPADAI SURIAH
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*) Dalam The Future of Islam (terj: Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan denga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Perlunya Ilmu Kematian
    Perlunya Ilmu Kematian Oleh : Emha Ainun Najib Engkau tentu ingat bahwa puasa terkadang dipakai sebagai alat politik. Sering baca ...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Racun Penawar
    Seikat rerumputan yang arbitrer Terlihat jelas daun kering kerontang Seisap racun penawar gelisah Semakin tak menentu perlawanan a...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Janganlah “T” Walau bukan “Y”
    Janganlah “T” Walau bukan “Y” Mengapa tak kau biarkan diriku mengambang di antara “Ya atau Tidak”, itulah yang akan kudapat Tapi ...

Mengenai Saya

Coretan dinding
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Statistik

Iklan

@coretan2dinding

Blog Archive

  • ►  2014 (1)
    • ►  September (1)
  • ▼  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Islam dan Politik
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Cari Blog Ini

Postingan Populer

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
    Oleh : Husein Ja'far  Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakn...
  • Suro dan Kesakten
    Bulan Suro merupakan berbagai intisari dari embrio keluhuran masyarakat Jawa. Karena juga awal bulan dalam pergantian Tahun dan semua rum...
  • Mustahil
    Mustahil Mustahil Mungkin itulah men-jadi Mustahil Hilangnya ke-aku-an Mustahil Tantangan dan lecut Mustahil Tak mengena...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Mempertimbangkan Tuhan-nya Anak-anak
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar* Ironisnya, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin anak-anak terkait perkara teologis, sebag...

Langganan

Postingan
Atom
Postingan
Komentar
Atom
Komentar
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com