skip to main | skip to sidebar

Coretan Dinding

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Jumat, 30 November 2012

Tipologi Kemerdekaan

Diposting oleh Coretan dinding di 03.26

Tipologi Kemerdekaan

Tipologi Kemerdekaan
Oleh Husein Ja'far Al Hadar 


Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kini, suasana kemerdekaan begitu kental menyelimuti setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai "ritual kebangsaan" dalam aneka-ragamnya kian memadati berbagai wilayah di seluruh penjuru Indonesia. Hal itu sebagai bentuk partisipasi aktif rakyat Indonesia dalam upaya memeringati dan mengisi momentum sakral dalam sejarah bangsa Indonesia.

Kemerdekaan merupakan sebuah cita-cita nurani luhur bagi setiap masyarakat dalam suatu tatanan kebangsaan dan kenegaraan. Pasalnya, kemerdekaan merupakan sebuah titik tolak bagi sebuah bangsa dalam upaya membentuk suatu pemerintahan yang berdaulat dan independen sesuai dengan cita-cita objektif seluruh elemen rakyatnya. Selain itu, era kemerdekaan ternilai sebagai sebuah era baru yang mampu memberikan jaminan bagi masyarakat suatu bangsa guna menuju suatu tatanan sosial masyarakat yang lebih ideal.

Dalam perkembangannya, terdapat beberapa tipologi yang tersusun secara vertikal-sesuai kedalaman pemahaman paradigmatik akan esensi serta eksistensinya-dalam tatanan masyarakat kita dalam memahami dan memaknai nilai-nilai esensial sebuah kemerdekaan. Tipologi terkait esensi kemerdekaan tersebut muncul seiring dengan beragamnya pemahaman paradigmatik seseorang akan sebuah kemerdekaan.

Pertama, kemerdekaan simbolik. Sebagian masyarakat kita cenderung memahami dan memaknai esensi kemerdekaan sebagai sebuah era terbebasnya tatanan sosial masyarakat dalam suatu bangsa dari tirani penjajahan asing yang bersifat hegemonik-eksploitatif. Dalam konteks ini, simbol kemerdekaan berupa proklamasi kemerdekaan 62 tahun silam ternilai sebagai titik awal sekaligus terpenuhinya kemerdekaan bangsa secara mutlak.

Kedua, kemerdekaan substansial. Dalam sisi yang berbeda, sebagian masyarakat cenderung memiliki paradigma yang lebih idealis serta relevan terkait esensi dan eksistensi dari sebuah kemerdekaan. Mereka cenderung memahami dan memaknai kemerdekaan lebih komprehensif, yaitu terbebasnya tatanan sosial masyarakat dari tirani-tirani penjajahan asing maupun berbagai bentuk "penjajahan internal" yang mungkin muncul dalam suatu era pascaproklamasi kemerdekaan 62 tahun silam.

Tipologi ini cenderung menjadikan kesejahteraan, egalitarian sosial-ekonomi, humanisme, serta kedamaian sebagai sebuah tolak ukur akan hakikat kemerdekaan. Tercapainya suatu tatanan masyarakat bangsa yang sejahtera dalam berbagai aspeknya merupakan titik awal kemerdekaan dalam perspektif tipologi ini. Sehingga, proklamasi kemerdekaan di era 1945 tidak dapat menjadi jaminan akan kemerdekaan dalam tipologi ini.

Ketiga, kemerdekaan struktural-universal. Dalam perspektif tipologi ini, esensi serta eksistensi sebuah kemerdekaan kian semakin mendalam dan fundamental. Tipologi ini lebih melihat hakikat kemerdekaan sebagai sebuah era terbebasnya suatu tatanan sosial kebangsaan masyarakat dari tirani "penjajahan global"-yang direalisasikan oleh sekelompok negara adikuasa yang cenderung bersikap hegemonik-dominatif-dalam tatanan politik global terhadap negara-negara lemah.

Selaras dengan tipologi kemerdekaan substansial, kemerdekaan struktural-universal pun cenderung bersifat abstrak selaras dengan keabstrakan rezim penjajahan yang muncul sebagai sebuah kekuatan hegemonik. Hegemoni dan tekanan secara struktural yang menimpa suatu bangsa dalam tatanan masyarakat global merupakan tolok ukur keterjajahan suatu bangsa dalam tipologi ini.

Selaras dengan hal itu, terlepasnya suatu bangsa dari sebuah struktur tirani global yang hegemonik dan monopolistik serta terbentuknya sebuah kemandirian global bagi suatu bangsa dengan idealisme politik sendiri merupakan tolok ukur kemerdekaan dalam tipologi ini. Oleh karena itu, dalam tipologi ini, terlepasnya suatu bangsa dari jeratan struktur tirani global-dengan beragam motifnya-yang hegemonik dan monopolistik merupakan hakikat serta eksistensi akan sebuah kemerdekaan.

Akhirnya, bertolak dari deskripsi tiga tipologi kemerdekaan tersebut nantinya diharapkan hal tersebut mampu menjadi objek refleksi dan tolok ukur bagi masyarakat kita akan esensi serta eksistensi kemerdekaan yang kita rasakan dan kita peringati saat ini. Deskripsi tiga tipologi kemerdekaan itu penting guna memotivasi seluruh elemen masyarakat kita agar terus meningkatkan esensi dan eksistensi kemerdekaan bangsa ini. Ke depan tentu kita ingin menuju era yang lebih ideal sebagaimana menjadi cita-cita kolektif seluruh rakyat Indonesia.***


Penulis adalah Ketua Lembaga Study of
Philosophy (Sophy) Jakarta, tinggal di Jakarta

Dimuat pada Selasa, 21 Agustus 2007 http://www.suarakarya-online.com

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)

Diposting oleh Coretan dinding di 03.18

Oleh : Husein Ja'far 

Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakni pada tanggal 10 Muharram. Namun, tradisi itu merekam tragedi itu sejak Sayyidina Husain mengawali perjalanannya di tanggal 1 Muharram. Pasalnya, secara historis-religius, 9 hari perjalanan Sayyidina Husain menuju Karbala bernilai historis dan religius yang penting dan mendalam. Dalam rangkaian perjalanan itu, ada sederet hikmah religius tentang kepemimpinan, perjuangan, perdamaian, perubahan, dll yang merupakan nilai-nilai dasar dalam Islam. Karenanya, setiap detik dalam hari-hari perjalanan itu patut dihayati dan direnungkan sebagai hikmah dalam Islam yang diturunkan Alah melalui perjuangan Sayyidina Husain. Dan, masyarakat budaya Tabot merangkum 9 hari perjalanan itu dalam 9 simbol budaya yang kemudian membentuk tradisi Tabot.

Pertama, mengambik tanah (mengambil tanah). Tanah yang diambil dalam prosesi ini merupakan tanah yang dianggap keramat (sebagai simbolisasi dari Tanah Karbala). Ritual ini juga menyiratkan pesan kepada manusia agar selalu mengingat asal penciptaannya yang tak lain dari tanah.

Kedua, duduk penja (mencuci jari-jari) merupakan simbolisasi dari ketangkasan Sayyidina Husain dalam memperjuangkan Islam dengan tangan dan jari-jarinya hingga beliau wafat dalam keadaan kepala terpenggal. Ritual ini dilakukan setiap tanggal 4 Muharram yang tak lain merupakan simbolisasi dari doktrin Islam yang menganjurkan setiap orang untuk memandikan jenazah saudaranya yang telah wafat, sebelum dimakamkan. Secara khusus, duduk penja merupakan simbolisasi memandikan jenazah Sayyidina Husain yang saat itu jenazahnya bahkan tak dimandikan.

Ketiga, menjara (berkunjung) yang berisi nilai-nilai akhlak. Dalam ritual ini, setiap tanggal 6 dan 7 Muharram, masyarakat budaya Tabot dianjurkan saling mengunjungi kerabat merekauntuk mempererat tali silaturrahmi.

Keempat, meradai (mengumpulkan dana). Ritual ini dilakukan pada 6 Muharram sebagai simbolisasi solidaritas sosial-ekonomi sesama manusia, khususnya antara masyarakat budaya Tabot di sana.

Kelima, arak penja (mengarak jari-jari) dilakukan setiap tanggal 8 Muharram sebagai simbolisasi atas anjuran bersikap damai dan memafkan dalam Islam. Sebab, kala itu Sayyidina Husain sebenarnya tak datang untuk berperang, tapi berdamai. Hanya saja, kekejaman tentara Yazid yang telah dibutakan oleh kekuasaan telah menjadikan mereka begitu sadis membantai Sayyidina Husain hingga jari-jarinya terpisah dari tangannya. Melalui ritual arak penja, masyarakat budaya Tabot mensyiarkan agar tragedi semacam itu tak lagi ada dalam sejarah Islam.

Keenam, arak sorban (mengarak sorban). Sorban yang diarak dalam ritual ini merupakan duplikat dari sorban yang dipakai Sayyidina Husain. Sorban di sini merupakan simbol kebenaran. Sehingga, ritual itu dipahami sebagai simbolisasi menjunjung tinggi perjuangan mempertahankan kebenaran, seperti yang ditunjukkan oleh Sayyidina Husain.

Ketujuh, gam (masa tenang). Ritual ini dilakukan sehari sebelum hari wafatnya Sayyidina Husain, yaitu pada 9 Muharram. Pada hari itu, tak ada kegiatan apapun dalam ritual Tabot. Sebab, hari itu dipahami sebagai hari keprihatinan dan berkabung atas kematian yang akan menjemput saudara Muslim bernama Sayyidina Husain pada keeeokan harinya. Menurut Husain Bahreisj (1987), ritual ini merupakan aplikasi dari hadist Nabi yang berbunyi;“Sesama Muslim adalah saudara bagai satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya juga akan merasakan sakitnya.”. Melalui ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharap akan merasakan keprihatinan yang terjadi pada rombongan Sayyidina Husain beserta keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala berabad-abad lalu.

Kedelapan, arak gedang (pawai besar). Ini merupakan momentum bertemunya seluruh gerga (kelompok peserta upacara Tabot) di Jalan Protokol dan berjalan bersama menuju Lapangan Merdeka. Ritual ini menyimbolkan anjuran persatuan dan merapatkan barisan dalam satu pawai besar bagi umat Islam dalam melumpuhkan musuh-musuh Islam dan memperjuangkan Islam dengan semanagat juang tinggi yang disimboisasi dengan penabuhan dol(gendang) sebagai penyemangat.

Kesembilan, tabot tebuang. Ini merupakan prosesi terakhir dalam rangkaian upacara Tabot yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram. Ritual ini merupakan simbolisasi masyarakat budaya Tabot dalam mengkafani, menyalatkan dan menguburkan Sayyidina Husain yang kala itu tak dikafani, tak disalati dan tak dikuburkan oleh pasukan Yazid. Dalam ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharapkan dapat menghayati nilai-nilai dan ajaran Islam tentang bagaimana memperlakukan jenazah Muslim secara kemanusiaan dan sesuai tuntunan Islam.

Ritual terakhir tersebut dilakukan di Pemakaman Umum Karbela di kawasan Padang Jati, Bengkulu, tempat dimakamkannya Syekh Burhanuddin (atau lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo di Bengkulu), pelopor tradisi Tabot itu sendiri. Menurut DR. Harapandi Dahri (2009), mengutip dari Ir. A Syafril Syah (Ketua Kerukunan Keluarga Tabot), nama Karbela itu juga sengaja diadopsi dan ditiru dari nama Karbala di Irak, tempat kematian Sayyidina Husain. Hal itu dilakukan agar masyarakat budaya Tabot selalu mengenang Tragedi Karbala dan berharap kawasan itu menjadi pusat dakwah dan budaya Islam.***

* Husein Ja'far Al-Hadar adalah Peminat Studi Keagamaan & Filsafat dan Penulis buku "Islam "Madzhab" Fadlullah"
Dimuat mizan.com

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Rabu, 28 November 2012

Suro dan Kesakten

Diposting oleh Coretan dinding di 07.25

Bulan Suro merupakan berbagai intisari dari embrio keluhuran masyarakat Jawa. Karena juga awal bulan dalam pergantian Tahun dan semua rumusan dalam setahun ke depan ditentukan di Suro. Ritual-ritual diselenggarakan bergerak vertikal ke atas dengan persemedian-persemedian penuh konsentrasi meleburkan diri dalam jiwa diri mencapai Sang Gusti untuk dapat di bumikan. Sehingga Suro juga kembali pada ibu pertiwi, ibu bumi.

Hari raya orang Jawa khususnya adalah sebuah ritual spiritual kepada Gusti Yang Maha Esa dan mengharap kesakten atau kesaktian. Antara lain, membasuh segala yang kita miliki sebagai pusaka. Contoh saja Keris salah satunya, artinya mencuci bukan hanya secara lahir yang primordialnya seperti mencuci piring. Akan tetapi lebih pada nilai kerohanian. Kebesaran yang ada di jiwa diasah dan diarak keliling untuk bisa dibagikan dan digenggam oleh sanak, bahkan orang lain mengambil sesuguhan arti kontemporer yang lebih bermanfaat bagi diri dan orang lain.

Namun, bisa kita lihat apa saja syarat sesungguhnya untuk mengawali ritual mencapai kesakten.
Pertama, Sabar. Ki Barata ( Pembina Padepokan Wilujeng ) mengatakan bahwa sepanjang usia manusia selalu bertemu ambivalensi antara kedua pilihan yang membingungkan dan menggugah hati. Nafsu yang mengontrol pergerakan akan keinginan harus di balance-kan dengan memaksimalkan fungsi hati dan pikiran. Sabar adalah kuncinya.

Segala keinginan-keinginan yang ada di puasakan dengan sabar untuk tidak meraja-lela dan menguasai diri-pribadi. Karena kebutuhan yang sudah diberikan Gusti kepada manusia sudah mencakup segala hal yang memang kita perlukan. Sedangkan keinginan hanya egoisme diri yang jika kita memiliki hanya sedikit menambah kebahagiaan. Karena bagaimana-pun yang dimilikinya lambat laun akan tertindih rasa penyesalan atas hilangnya yang dimiliki atau bahkan mungkin tertumpuk lahirnya keinginan baru dan menyesakkan.

Kedua, Ki Barata melanjutkan bahwa tahap berikutnya adalah Sabar. Sabar yang kedua dimaksudkan bagaimana manusia sabar menfokuskan pada Gusti dengan segala Sesajen dan Relo legowo melakukannya dalam rangka mensyukuri atas segala pemberian Tuhan Yang Maha Kasih. Sesajen Tumpengan contohnya, merupakan implementasi dari eksistensi kita di masyarakat yang bersyukur dan memberikan kepada semua orang yang kira-kira membutuhkan pangan. Nilai ini mungkin hanya menjadi agenda Tahunan, namun jika kita analisa maka wacana ini mengandung ekuivalensi Hubungan Manusia dengan Tuhan, Hubungan Manusia dengan Alam (Manusia).

Ketiga, Ikhlas. Serangkaian hirarki perbuatan kita di dunia diukur dengan seberapa besar kita memberikan segala pada Gusti Allah, berupa kebaikan-kebaikan dan benar-benar Ikhlas?. Ikhlas merupakan substansi besar dalam diri manusia yang jika potensi ini diekspresikan secara real, maka kita benar-benar Manunggaling Kaulo Gusti (menyatu dengan Tuhan / berprilaku seperti Tuhan).

Di balik selentingan tentang ritual yang selama ini dikaitkan dengan kesyirikan setidaknya terbantahkan. Karena hanya sesembahan secara lahiriah saja bahwa di Holy Month seperti Suro kita dituntut untuk mencuci keris, udeng atau blangkon yang sebenarnya merupakan ritual dari serangkaian budaya dan adat kebiasaan sebagai pengertian tentang apa yang berada di dalam diri.

Maka, kiranya kita melihat artikulasi tentang kesakten dan yang disebut sakti mandraguna adalah mereka-mereka yang mampu mengoptimalkan segenap Sabar dan Ikhlas sebagai ritual dan mendayagunakannya di bumi.

Akhirnya keseimbangan antara Hubungan Vertikal (Gusti) dan Hubungan Horizontal (Alam/manusia) memang Kudu selaras. Yang mampu dialah yang sakti.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Mustahil

Diposting oleh Coretan dinding di 05.10

Mustahil

Mustahil
Mungkin itulah men-jadi
Mustahil
Hilangnya ke-aku-an
Mustahil
Tantangan dan lecut
Mustahil
Tak mengenal memiliki
Mustahil
Memang menarik
Dan Mustahil
Mengajari makna “To have” dan “To be”

Akhirnya mengenal “Batas” dan “Ke-ter-Batas-an”
Batas mengenalkan Sempurna
Batas mengenalkan merdeka
Batas mengenalkan “Ke-ter-Batas-an”

“Ke-ter-Batas-an” karena ada yang lebih
“Ke-ter-Batas-an” karena ada yang tak terBatas
“Ke-ter-Batas-an” mengarahkan “Proses”
“Ke-ter-Batas-an” bukanlah Hasil Akhir
“Ke-ter-Batas-an” karena kita mencoba dilecut
“Ke-ter-Batas-an”, mengartikan Mustahil dan KeMustahilan

Karena,
Untuk men-jadi. Bukan ukuran memiliki
Untuk men-jadi. Sadar KeMustahilan karena KeterBatasan

Namun,
Karena Mustahil bisa memiliki yang Mustahil
Karena Mustahil memiliki KeMustahilan
Itulah Batas kita!


Lahirlah “Harapan”
Sehingga,
Tau Batas!? Peta bukan wilayah
Tau Mustahil!? Melampaui menghapus Batas

KeMustahilan bersinergi KeterBatasan
Dan, Hidup dalam KeMustahilan dan KeterBatasan,
Di sana, kita akan hidup menjadi lebih hidup.
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat

Diposting oleh Coretan dinding di 04.54

 Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta.
DALAM pengantarnya untuk buku Our Philosophy (terjemahan dari Falsafatuna) karya Baqir Shadr yang terbit pada 1987, Seyyed Hussein Nashr menyatakan sesuatu yang penting tentang bahasa. Ia menulis bahwa jika kita melihat kelemahan-kelemahan dalam menginterpretasi dan memahami sumber-sumber dari Barat, hal itu karena lemah dan tak sempurnanya terjemahan-terjemahan teks filsafat Barat ke bahasa Arab dan Persia yang diakses oleh Baqir Shadr.

Apa yang diungkapkan Nashr merupakan salah satu problem dasar (yaitu problem penerjemahan) yang menjadikan diskursus dalam ranah filsafat, khususnya filsafat Islam vis a vis Barat, relatif terganggu. Gangguan tersebut disebabkan oleh kesalahan pemahaman pembaca saat membaca sebuah teks filsafat terjemahan, bukan bahasa asli dari teks tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memahami maksud sebuah teks yang telah diterjemahkan. Karena kesalahpahaman ini, tanggapan atau kritik yang dilayangkan terhadap pemikiran filsafat kerap tidak tepat, sehingga diskursus dalam ranah filsafat menjadi timpang.
Itulah yang dikhawatirkan oleh Nashr dan para peminat studi filsafat- terhadap kritik yang disampaikan oleh berbagai filsuf Islam kontemporer terhadap berbagai aliran filsafat- Barat dengan bermodalkan bacaan mereka terhadap teks-teks terjemahan- filsafat Barat, termasuk Baqir Shadr dalam Falsafatuna. Problem itu pula yang kerap dikhawatirkan dan dikeluhkan oleh para peminat studi filsafat di Indonesia, termasuk penulis, ketika membaca teks-teks filsafat-baik Barat maupun-Islam terjemahan.
Dalam buku Heidegger dan Mistik Keseharian, Budi Hardiman, dosen STF Driyarkara (2008), menyebut soal sulitnya peminat studi filsafat di Indonesia untuk menerjemahkan kata seiendes dalam bahasa Jerman. Beberapa terjemahan-seperti pengada atau adaan-dinilai justru melenyapkan makna aktivitas yang terkandung dalam Partizip I dalam bahasa Jerman. Budi memilih untuk menerjemahkannya sebagai mengada, untuk menyelamatkan makna aktivitas itu dalam bentuk kata benda. Begitu pula terjemahan dari bahasa Arab ke Inggris sebagaimana yang diungkapkan Nashr. Kata aql dalam bahasa Arab biasanya diterjemahkan menjadiratio dalam bahasa Inggris atau kata ilm yang diterjemahkan menjadi science. Menurut Nashr, dalam penerjemahan dua kata bahasa Arab ke bahasa Inggris ini telah terjadi reduksi makna. Pasalnya, misalnya, kataaql dalam filsafat Islam bukan hanya suatu aktivitas mental sebagaimana terkandung dalam makna terjemahanratio, tapi juga berkaitan dengan kontemplasi (perenungan).
Problemnya bukan hanya terletak pada kesulitan mencari kosakata padanan, tapi juga karena paradigma peradaban (Islam dan Barat) yang memang memiliki corak perbedaan yang sangat besar. Paradigma peradaban Barat pasca-Renaisans yang kemudian sangat modernis-positivis, sehingga nilai dan makna yang berbasis spiritualis-mistis khas filsafat Islam kemudian tak terakomodasi dengan baik dan utuh dalam tatanan peradaban (filsafat) Barat.
Problem itu relatif tak dirasakan oleh kalangan filsuf Islam klasik saat teks filsafat Yunani diterjemahkan dalam teks Islam; bahasa Arab ataupun Persia. Ini disebabkan bahasa Arab memiliki keluasan dan nilai sastra yang tinggi dan karena corak peradaban Yunani dan Islam relatif dekat; sama-sama percaya dan mengakomodasi hal-hal yang bersifat spiritualis-mistis. Tentunya pula karena para penerjemahnya adalah para filsuf juga-seperti Al-Kindi-yang memiliki kredibilitas dan integritas untuk menerjemahkan secara apik teks filsafat.
Namun problem penerjemahan tersebut lebih dirasakan oleh para filsuf Barat, saat teks filsafat Yunani maupun Islam diterjemahkan ke teks Barat; baik bahasa Inggris, Jerman, maupun Prancis. Problem ini juga kemudian semakin dirasakan ketika teks filsafat itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kerancuan penerjemahan kerap menjadi “tembok besar” yang mengebiri peminat studi filsafat di Indonesia untuk memahami filsafat-baik Barat maupun Islam-secara utuh dan sesuai dengan makna aslinya, termasuk buku Falsafatuna yang juga telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 1991. Inilah yang kemudian menjadi problem mendasar dalam studi filsafat, khususnya di Indonesia.
Bertolak dari situ, upaya penerjemahan teks filsafat sepatutnya dilakukan oleh seseorang yang memiliki kredibilitas dan integritas dalam studi filsafat.
Sehingga diharapkan ia mampu memahami dan mencari kata atau istilah padanan-atau minimal memberi catatan kaki (footnote) yang memadai-untuk menjelaskan teks asli filsafat tersebut, sebagaimana dilakukan Al-Kindi dalam dunia Islam. Termasuk juga, jika perlu, dilakukan penulisan buku lanjutan yang menjelaskan sebuah karya filsafat yang telah diterjemahkan untuk membimbing pembaca dalam memahami karya terjemahan itu, sebagaimana berkembang menjadi sebuah tradisi dalam dunia Islam.
Upaya ini tentunya patut diimbangi dengan apresiasi yang besar terhadap para penerjemah, bukan hanya pengarang teks-teks filsafat.

Dimuat "Majalah Tempo", 7 Maret 2011
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Selasa, 20 November 2012

Racun Penawar

Diposting oleh Coretan dinding di 22.35

Seikat rerumputan yang arbitrer
Terlihat jelas daun kering kerontang

Seisap racun penawar gelisah
Semakin tak menentu perlawanan akan prahara
Bukanlah putus asa-ku
Tapi anggurpun tiada

Sesapu semua derita
Terbenam di bawah bulu di bawah rambut
Senggamaku akanmu tak ku idamkan
Tapi indahnya malam di tepian
Tempat berlabuhnya punggung
Tak terukur
Empuknya, kerasnya.

Bahkan batupun tak kupedulikan angkuhnya
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Air Menanti Hidup Mengerti

Diposting oleh Coretan dinding di 08.10

Andai kaktus tak berduri
Habislah riwayatnya...
Simbolnya pohon buruk ini
Bahkan dia mampu
bertahan akan panas sahara

tak malu
jelek
berduri
aneh
namun ber-karakter dan ber-integritas

mampukah kita mengira dan menjerit
janganlah kau paksa
terkadang berdiam
lebih baik
saat air kehidupan tersimpan
bahkan kau hidup
meskipun di tanah gersang
yang tak berair

jangan kau tanya di mana air
sebab air pasti muncul
tapi jangan mengandai limpahan air
di serangkaian gurun yang tak ber oase

lihatlah disemak-semak
di belukar itu air menyumbar
sekali lagi mengertilah
jangan membuat memaksa untuk dimengerti

bongkah jasad yang bernafas
ada hidup yang lebih besar
namun, sulit, sukar, dan susah
untuk dijelaskan

di bongkah jasad yang tak bernafas
terurai semua
dan  kau bisa mengerti
walau sedikit yang mengertimu
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Betinaku

Diposting oleh Coretan dinding di 03.50



Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu
Legowo, meskipun darahku addicted suaramu
Beribu kicau tak terdengar jelas
Gaung mendengung di telinga kudengar Namamu

Dalam haus dalam panas
Aku taklukkan dengan mencuri menatap matamu
Antara sumber mata air dan padang ketakutanku
Sebuah anggur yang kucumbu memabukkan diriku

Mungkin aku akan merangkak menggapai tulang yang tak nampak di lehermu
Saat tangan dan kaki tak lagi mampu bergerak
Kuhayati dirimu dan merasuk dalam jiwamu melalui halus lembut kuduk
Prahara tak menggetarkanku walau pematang sawah tlah rata menjadi lapang

Di situ di kamu di antara seikat nyawamu, aku akan bernafas
Ber-adu, berlari dengan detakan jantung
Yang tak mampu membendung
Dan melumpuhkanku

Duhai betinaku yang tak pernah kuukir
Janganlah engkau mengindahkan yang seakan indah
Biarkanlah yang indah mengindahkan

Duhai betinaku yang tak pernah kubina
Janganlah takut....!!!!
Kita hanya diuji oleh detakan waktu
Yang meskipun mengurangi jatah hembusan nafas
Urailah kebahagiaan dan sandarkan punggungmu di dada mungilku
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Janganlah “T” Walau bukan “Y”

Diposting oleh Coretan dinding di 03.45

Janganlah “T” Walau bukan “Y”

Mengapa tak kau biarkan diriku mengambang di antara
“Ya atau Tidak”, itulah yang akan kudapat
Tapi selama masih angan ini melambung
Seluruh energi bangkit dan semangat menjalani roda kehidupan
Senang susah tertindih senyum yang bertengger di kelopakku
Jangan kau ucap “Tidak” meskipun kata “Ya” tak pernah terlintas...

Diam, biarkan, mengalir
Walau Laut tak nampak

Aku takut kau dihampiri oleh lebah lain
Sehingga aku bertengger di sekelilingmu
Ketakutanku memuncak aku mencoba memberi pagar
Dan seakan status de facto aku ingin memilikimu

Ku rela kau tak melihatku dan mencampakkanku
Karena jawaban tak kuharapkan cepat datangnya
Hanya ku semacam tak rela kau dibelenggu duri selainku
Meskipun hayalanku hanya aku yang sempurna

Jangan-jangan kau putuskan melepaskanku
Walau mungkin aku tak mengertimu
Harapanku kau bisa mengertiku
Aduh-duh jangan-jangan...aku tak sanggup kau campakkan...
Campakkan selainku,,,walau mereka lebih dari segalaku

Memang tak pernah terukir kisah-kisah yang melegenda
Namun, hayalanku melebihi seluruh history tentang cinta
Memang belum ada selembar bahkan secarit tulisanku tentang-mu
Tapi energi seluruhku karena alam-pikirku akanmu
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners


ads







Blog Archive

  • ►  2014 (1)
    • ►  September (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (9)
    • ▼  November (9)
      • Tipologi Kemerdekaan
      • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
      • Suro dan Kesakten
      • Mustahil
      • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
      • Racun Penawar
      • Air Menanti Hidup Mengerti
      • Betinaku
      • Janganlah “T” Walau bukan “Y”

Followers

TopMenu

  • Beranda
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
  • Suro dan Kesakten
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
  • Tipologi Kemerdekaan

Jendela Dinding

Coretlah apapun
Jikapun ditanya
jawabnya "tidak tahu"
Sampai lelah mencoret dinding

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Post

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • MENGENANG IRAK, MEWASPADAI SURIAH
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*) Dalam The Future of Islam (terj: Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan denga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Perlunya Ilmu Kematian
    Perlunya Ilmu Kematian Oleh : Emha Ainun Najib Engkau tentu ingat bahwa puasa terkadang dipakai sebagai alat politik. Sering baca ...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Racun Penawar
    Seikat rerumputan yang arbitrer Terlihat jelas daun kering kerontang Seisap racun penawar gelisah Semakin tak menentu perlawanan a...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Janganlah “T” Walau bukan “Y”
    Janganlah “T” Walau bukan “Y” Mengapa tak kau biarkan diriku mengambang di antara “Ya atau Tidak”, itulah yang akan kudapat Tapi ...

Mengenai Saya

Coretan dinding
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Statistik

Iklan

@coretan2dinding

Blog Archive

  • ►  2014 (1)
    • ►  September (1)
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (9)
    • ▼  November (9)
      • Tipologi Kemerdekaan
      • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
      • Suro dan Kesakten
      • Mustahil
      • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
      • Racun Penawar
      • Air Menanti Hidup Mengerti
      • Betinaku
      • Janganlah “T” Walau bukan “Y”

Cari Blog Ini

Postingan Populer

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
    Oleh : Husein Ja'far  Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakn...
  • Suro dan Kesakten
    Bulan Suro merupakan berbagai intisari dari embrio keluhuran masyarakat Jawa. Karena juga awal bulan dalam pergantian Tahun dan semua rum...
  • Mustahil
    Mustahil Mustahil Mungkin itulah men-jadi Mustahil Hilangnya ke-aku-an Mustahil Tantangan dan lecut Mustahil Tak mengena...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Mempertimbangkan Tuhan-nya Anak-anak
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar* Ironisnya, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin anak-anak terkait perkara teologis, sebag...

Langganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com