skip to main | skip to sidebar

Coretan Dinding

  • Entries (RSS)
  • Comments (RSS)
  • Home
  • About Us
  • Archives
  • Contact Us

Rabu, 03 September 2014

Perlunya Ilmu Kematian

Diposting oleh Coretan dinding di 20.56
Perlunya Ilmu Kematian
Oleh : Emha Ainun Najib

Engkau tentu ingat bahwa puasa
terkadang dipakai sebagai alat politik.
Sering baca koran beita
tentang orang mogok makan?

Mogok makan adalah senjata politik pamungkas, suatu jenis political pressure, sesudah cara lain, misalnya perlawanan kekuasaan, pemberontakan militer, dan lain sebagainya, tidak mempan atau tidak mampu membawa pelakunya memperoleh apa yang dikehendakinya.

Mogok makan juga bisa disebut suatu pola perjuangan moral. Artinya, dengan mogok makan, seseorang mencoba menyentuh moralitas pihak yang dilawannya untuk menuhi tuntutan-tuntutannya. Kenapa dengan mogok makan? Karena tujuan mogok makan sesungguhnya adalah mati. Kalau penguasa membiarkan seorang pemrotes mati karena mogok makan, ia akan dicatat sejarah sebagai manusia tak bermoral. Tapi sayang seribu sayang, banyak penguasa tak peduli pada cap amoral atau stempel kebiadaban di jidatnya.

Banyak pemogok makan dibiarkan  saja sampai sejauh-jauh penderitaanya, karena kalau sekadar ada orang mati karena mogok makannya sendiri, apa istimewanya? Sedangkan ada orang mati karena ditumpas oleh aparat kekuasaan pun sudah tidak takut dicap tidak bermoral, lha wong penguasa itu sudah sangat banyak melakukan perbuatan yang jauh lebih biadab dibanding itu.

Dan biasanya, para pemogok makan lantas juga tidak ber-istiqamah. Ia membatalkan mogoknya di tengah protes. Bahkan di Yogya pernah ada mahasiswa yang mogok makannya sekadar mogok makan nasi, sehingga ia membolehkan dirinya makan hamburger atau makanan lainnya. Maka tujuan politiknya tidak tercapai. Metode pressure-nya tidak efektif, kecuali sekadar membuat penguasa tertawa terpingkal-pingkal belaka.

***
Sekarang proyeksinya kepada kenyataan bahwa sampai konteks tertentu, mogok makan itu mirip dengan puasa. Letak kekuatan puasa adalah karena kalau ia tidak dibatasi, maka akan menghasilkan kematian. Mungkin engkau kuat berpuasa 40 hari 40 malam dan menjadi pendekar mumpuni. Atau engkau adalah seorang biksu di sebuah gua di Thailand yang lebih dari tiga tahun hanya bersila tanpa makan minum.

Hal terakhir itu memiliki hitungan rasionalitasnya sendiri dan memerlukan penjelasan tersendiri pula. tetapi kita memakai pengetahuan normal saja bahwa puasa total selama jangka waktu tertentu akan menghantarkan pelakunya kepada maut.

Maka dari sudut semacam itu engkau bisa menemukan salah satu definisi atau fungsi puasa: ialah jalan menuju kematian fisik. kegiatan puasa adalah perjalanan melancong ke tepian jurang kematian, meskipun engkau sadar untuk membatasinya sehingga tidak melompat masuk ke jurang itu. perjalanan melancong itu, dalam puasa yang dikonsepkan dengan batas-batas sehat, sekadar mengajakmu untuk mengalami dan menghayati situasi yang seolah-olah antikehidupan, misalnya lapar, dahaga, lemas, loyo, lumpuh, dan seterusnya.

Di dalam puasa atau pekerjaan apa pun, substansi yang terpenting adalah kesadaran tentang batas. Batas yang benar pada sesuatu hal akan merelatifkan hakikat suatu pekerjaan dan kondisi. Umpamanya tadi aku sebut bahwa lapar dan haus adalah situasi yang antikehidupan. Itu artinya bahwa lapar dan haus yang tidak dibatasi akan memproduksi mati. Tetapi engkau tidak bisa mendikotomikan lapar-haus dengan kenyang-segar apabila engkau memakai kesadaran batas. Sebab, kenyang yang tidak dibatasi juga akan membawa manusia kepada maut.

***

Juga apabila lapar di situ engkau artikan secara lebih luas menjadi--katakanlah--kemiskinan, kemelaratan, atau kefakiran. Kefakiran yang melampaui batas akan membunuh manusia. Bukan hanya terbunuh fisiknya, tapi mungkin juga daya hidupnya, kepercayaan dirinya, mentalnya, imannya, dan sebagainya.

Sebaiknya, kenyang dalam arti sosial budaya, pemilikan harta yang berlebihan, kekuasaan yang berlebihan, kemenangan yang terlalu mutlak, sesungguhnya unsur-unsur tertentu di dalam diri para pelakunya, pemilikan harta yang berlebihan akan membuat pelakunya dalam kehilangan standar kelayakan hidup, akan mungkin mengurung pelakunya dalam keterbudakan oleh keserakahan, oleh rasa tidak cukup yang tak habis-habisnya. Kekuasaan yang terlalu lama juga akan mematikan kewajaran pelakunya, karena ia terpenjara oleh akibat-akibat dan ancaman-ancaman yang berada di depannya yang berasal dari kekuasaanyayang berlebih.

Jadi, baik kaya atau miskin, kenyang atau lapar, punya atau tidak punya, semuanya ini diikat oleh disiplin batas, agar tidak mencenderungi kematian. Kesadaran tentang batas inilah yang antara lain diajarkan oleh kandungan hikmah puasa. Hakikat puasa adalah menahan diri. Menahan diri adalah kesanggupan menciptakan batas-batas dalam suatu perbuatan.

Kesadaran utama dalam kehidupan adalah kesadaran tentang kematian, karena alamat kematian adalah pada garis akhir kehidupan. Yang paling pokok harus diurus oleh manusia bukanlah kebebasan, melainkan batas-batas. Dengan kata lain, pelajaran utama tentang kehidupan sebenarnya adalah bagaimana menyadari kematian.

Dan apakah gerangan pasal terpenting dari ilmu kematian ? Ialah kesadaran bahwa semua milikmu yang bersifat duniawi itu tidak bisa engkau bawa masuk ke kuburan. Artinya, kenapakah engkau menghabiskan pikiran, tenaga, usia, serta hiasan iri, dengki, dan nafsu itu untuk menumpuk sesuatu yang tidak bisa engkau angkut ke keabadian di masa datang? Kenapakah tidak engkau lakukan dan cari saja segala sesuatu yang bisa engkau bawa ke hadapan Allah? Apakah aku melarangmu untuk kaya? Tidak. Kayalah, dan amal salehkanlah.

Diambil dari Buku : Tuhanpun Berpuasa Hal. 131-134
Penerbit : Buku Kompas, Juni 2012 PT Kompas Media Nusantara
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Selasa, 21 Mei 2013

Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer

Diposting oleh Coretan dinding di 18.58

Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269)
Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah
Pulang ke teduh matamu
Berenang di kolam yang kau beri nama rindu
Aku, ingin kembali
Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman
Memetik tomat di belakang rumah nenek.
Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku,
Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur
Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi
Aku ingin kembali ke rumah, Ayah
Tapi nasib memanggilku
Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi
Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata
Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya
Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah
Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada
Maka aku menungganginya
Maka aku menungganginya
Menyusuri hutan-hutan jati
Melihat rumput-rumput yang terbakar di bawahnya
Menyaksikan sepur-sepur yang batuk membelah tanah Jawa
Arwah-arwah pekerja bergentayangan menuju ibu kota,
Mencipta banjir dari genangan air mata
Arwah-arwah buruh menggiring hujan air mata, mata mereka menyeret banjir
Kota yang tua telah lelah menggigil, sudah lupa bagaimana bermimpi dan bangun pagi
Hujan ingin bercerai dengan banjir
Tapi kota yang pikun membuatnya bagai cinta sejati dua anak manusia
Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya
Orang-orang datang ke pasar malam, satu persatu, seperti katamu
Berjudi dengan nasib, menunggu peruntungan menjadi kaya raya
Tapi seperti rambu lalu lintas yang setia, sedih dan derita selalu berpelukan dengan setia
Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya

Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh. Yang tertinggal jarak itu juga-abadi. Di depan sana ufuk yang itu juga-abadi. Tak ada romantika cukup kuat untuk dapat menaklukan dan menggenggamnya dengan tangan-jarak dan ufuk abadi itu
Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Selasa, 26 Maret 2013

MENGENANG IRAK, MEWASPADAI SURIAH

Diposting oleh Coretan dinding di 21.22

Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*)
Dalam The Future of Islam (terj: Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat diterbitan oleh Mizan  pada 2010), John L. Esposito berkisah tentang sebuah acara televisi di AS pada 2005. Acara yang dipandu oleh John Stewart itu memperlihatkan  bagaimana para pejabat tinggi FBI tidak bisa menjawab berbagai pertanyaan sangat mendasar mengenai Islam. Bahkan, bukan hanya mengakui ketidaktahuannya, lebih buruk lagi; mereka sejak awal melepaskan keingintahuan untuk tahu tentang Islam. 

Setahun kemudian, kepada para pejabat kontraterorisme AS dan anggota Kongres, John Stewartt dalam sebuah tayangan yang sama mengajukan pertanyaan: “Apakah anda tahu tentang perbedaan Sunni dan Syiah?”, Jawabnya: "Tidak tahu."  Kenyataan tersebut membuat John Stein, Redaktur Keamanan Nasional untuk Congressional Quarterly di Washington, mengungkapkan; “Sebagian besar pejabat AS (bukan hanya anggota Kongres, tapi juga intelijen dan penegak hukum AS) yang telah saya wawancarai tidak mengetahui apa-apa tentang Islam secara mendasar.”

Hal yang sama juga tercermin dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Gallup (dalam tajuk “Who Speaks for Islam?”) pada 2008 . Saat sebagian warga AS ditanya tentang apa yang mereka kagumi dari Islam? Maka, diperoleh angka; 57 % warga AS menjawab, “tidak ada!” dan “tidak tahu!”.

Semua kisah dan fakta itu tentu mengejutkan bagi siapa saja yang mencita-citakan terjalinnya sebuah hubungan yang harmonis antara dunia Islam dan Barat (khususnya AS). Lebih mengejutkan lagi ketika semua itu dihadapkan pada kenyataan bahwa di tengah minimya informasi soal Islam, dengan dalih untuk menangkap Saddam Hussein yang dituduh memiliki senjata pemusnah massal, AS justru menginvasi Irak. Bagaimana mereka bisa memformulasikan solusi, tanpa sebelumnya tahu tentang masalahnya, atau bahkan tak tahu masalah itu benar-benar ada?  

Tak berhenti sampai di sana keterkejutan kita. Hingga saat ini, senjata pemusnah massal yang dijadikan alasan penyerbuan Irak, sama sekali tak pernah terbukti ada (dan sebenarnya memang tak pernah ada). Untuk supaya tidak kehilangan muka, penyerangan ke Irak tersebut kemudian digeser legitimasinya pada isu kediktatoran Saddam dan upaya menegakkan prinsip demokrasi di Negeri 1001 Malam itu. Maka, Francis Fukuyama pun melalui hipotesanya menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan AS dan sekutunya di Irak hanya didasarkan pada alasan-alasan hipokrit yang pada dasarnya benar-benar digerakkan oleh hasrat sepihak AS dan sekutunya untuk menyerang dan menghegemoni Irak dan Timur Tengah dengan tendensi berbagai kepentingan. Pertama, kepentingan AS dan sekutunya untuk merebut sumber-sumber minyak yang ada di Irak. Kedua, kepentingan AS dan sekutunya untuk mengamankan posisi Israel di Timur Tengah dengan menjadikan Irak sebagai basis kekuatan AS dan sekutunya untuk melindungi Israel. Ketiga, kepentingan AS untuk mengendalikan Timur Tengah dengan menjadikan Irak sebagai salah satu basisnya.

Kesimpulan hipotesa Fukuyama itu seolah dikukuhkan ketika pada 17 Desember 2002, Gedung Putih mengeluarkan dokumen penting setebal 31 halaman berjudul "The National Security of the United States of America". Dokumen itu merupakan grand strategy baru AS yang dicanangkan pasca-Perang Dingin. Menurut Charles Krauthmamer dalam Foreign Affairs (September/Oktober 2002), strategi baru itu memiliki tujuh elemen yang pada intinya berisi strategi AS untuk memuluskan hasrat politiknya guna mempertahankan dunia unipolar, dengan AS sebagai kekuatan tak tertandingi. AS tak ingin ada peradaban baru yang kokoh setelah Uni Soviet. Apalagi peradaban baru itu muncul dari dunia Islam. AS tak ingin dunia berjalan di atas prinsip demokrasi, tapi tunduk di bawah visi imperialisme Gedung Putih. 

Maka, dalam momentum mengenang sepuluh tahun tragedi invasi AS ke Irak saat ini, kisah invasi itu benar-benar terasa seperti dongeng yang sering kita lihat dari film-film khas Hollywood. Dan, ironisnya, dongeng itu kini sedang diupayakan lagi oleh AS untuk dilekatkan pada sosok Bashar Assad (Presiden Suriah) di Suriah, dengan tuduhan serupa yang sebenarnya telah usang bagi kita yang mengamati trik politik AS selama ini, yakni tuduhan penggunaan senjata kimia. 

Tentu, belajar atas tragedi Irak 10 tahun lalu, seharusnya kita tak lagi percaya pada dongeng gubahan AS dan sekutunya atas Suriah itu. Namun, juga belajar atas pengalaman, di tengah pengamalan -bahkan mungkin trauma- akan Irak itu, kita sering kali kembali terkecoh atau bahkan tak berdaya terhadap kedigdayaan AS. Sebagaimana terkecoh dan tak berdayanya kita dijajah film-film Hollywood, dengan segala manipulasi di balik keelokan visualisasinya.

Akhirnya, kita harus tahu dan sadar bahwa ini bukan soal benturan peradaban seperti kata Samuel Huntington. Apalagi bagi siapa saja yang memamahinya sebagai perang agama. Ini juga bukan soal Sunni dan Syiah, seperti menjadi isu dalam internal umat Islam soal Suriah. Ini murni sebuah serangan berbasis hasrat imperialisme dari AS dan sekutunya, untuk menjajah dan memandulkan dunia Islam. Sebab, mereka tahu dan sadar besarnya kekuatan dunia Islam (khususnya di Timur Tengah) jika mereka bersatu. Bahkan, jauh melebihi kekuatan Uni Soviet saat Perang Dingin. Apalagi, perlawanan atas segala penjajahan, penindasan dan segala bentuk ketidakadilan adalah misi utama Islam.  
  
Yang jelas, kita harus terus ingat apa yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib bahwa seorang yang paling merugi adalah ia yang hari ini dilalui tanpa pelajaran atas hari kemarin. Begitu pula kata Qur'an.   

*) Esais, Penulis Buku "Islam 'Madzhab' Fadlullah" (Mizan), Diskusi Lebih Lanjut Melalui Akun Twitter Pribadi Penulis di @Husen_Jafar 
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Jumat, 15 Februari 2013

Islam dan Politik

Diposting oleh Coretan dinding di 03.18

Oleh : Husein Ja’far Al Hadar
Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik 
Di antara sederet manfaat Twitter, salah satunya dirasakan oleh penulis baru-baru ini. Beberapa waktu lalu, penulis asyik terlibat dalam "diskusi virtual" menarik di Twitter dengan Ulil Abshar Abdalla (intelektual Muslim sekaligus pendiri Jaringan Islam Liberal) dan juga Syafiq Basri (jurnalis sekaligus intelektual Muslim). Diskusi itu dimulai dari inisiatif Ulil untuk kultwit (kuliah Twitter; sebuah 'kuliah' khas 'masyarakat' Twitter yang manfaatnya bisa lebih dari kuliah di kampus formal) tentang Islam sebagai agama yang kaffah, kamildan syamil (sempurna dan menyeluruh). 
Melalui kultwit itu, Ulil memaparkan bahwa istilah "Islam kaffah" bersumber dari ideologi Ikhwanul Muslim dan kemudian diikuti oleh kelompok masyarakat Muslim yang sering disebut jamaah tarbiyah (cikal bakal PKS). Sampai di sini, perlu penulis beri catatan bahwa kultwit dan diskusi penulis dengan Saudara Ulil berlangsung jauh hari sebelum mantan Presiden PKS, Lutfi Hasan Ishaq, tertangkap oleh KPK karena dugaan korupsi.

Masih menurut Ulil, istilah Islam kaffah itu digunakan mereka untuk mengokohkan ideologi politik Islamisme-nya. Dalam artian, dengan 'membajak' istilah itu, mereka hendak menegaskan Islam sebagai ideologi (bukan lagi agama) yang sempurna. Nah, politisasi atas istilah itulah yang dikritisi oleh Ulil melalui kultwitnya itu.

Menurut penulis, sebagai kritik terhadap Ikhwanul Muslimin, dkk, kultwit itu sangat tepat dan mengena. Sebab, sebagaimana kritik Faraq Fouda dalam "Al-Haqiqah Al-Ghaybah" (terj: "Kebenaran yang Hilang" (2008), Paramadina), dalam keyakinan mereka, Nabi Muhammad tak pernah melakukan suksesi kepemimpinan. Karenanya, suksesi yang dipilih oleh masing-masing khalifah darikhulafaur rasyidin 'pun berbeda-beda. Sebab, tak ada ketentuan suksesi secara baku dari Nabi Muhammad. Oleh karena itu, dalam twit ke 67-nya, Ulil bertanya, "Jika benar hukum syariat sempurna, seperti diklaim aktivis tarbiyah, mestinya 'kan ada hukum soal suksesi kepemimpinan?"

Sejauh sebagai kritik atas mereka, penulis sendiri setuju dengan pertanyaan Ulil itu. Sebab, dalam keyakinan mereka, suksesi kepemimpinan memang benar-benar tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Namun, jika pertanyaan itu diposisikan sebagai pertanyaan, bukan lagi kritik, maka penulis mulai tak setuju dan terlibat diskusi yang sungguh asyik dan mencerahkan.    

Menurut penulis, dan ini juga diyakini oleh Muslim-Syiah, merujuk pada ayat yang juga dibawa oleh Ulil dalam kultwit itu, yakni Al-Maidah: 3 yang isinya, "Hari ini, Aku (Tuhan) sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku lengkapkan nikmatku untukmu, dan Aku rela Islam sebagai agamamu.", suksesi kepemimpinan dilakukan oleh Nabi Muhammad. Dan, salah satu episode suksesi itu adalah saat ayat itu diturunkan. Ayat itu turun sebagai jawaban atas suksesi kepemimpinan yang telah dilakuakn oleh Nabi Muhammad kepada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Dan, episode sukses kepemimpinan itu diabadikan oleh begitu banyak hadist mutawatir (hadist terpercaya yang periwayatannya sangat kuat) oleh begitu banyak periwayat hadist. Oleh karena itu, keberadaan suksesi itu tak dinafikan oleh ulama Muslim, baik Syiah maupun Sunni. Hanya saja, keduanya beda dalam menafsirkan makna suksesi itu. Jika Syiah menafsir itu suksesi kepemimpinan agama dan politik, tapi Sunni menafsir bahwa itu hanyalah suksesi kepemimpinan agama, sebagaimana juga ditegaskan oleh Ulil dalam salah satu twitnya di rangkaian kultwitnya itu.

Namun, tulisan ini bukan hendak mendiskusikan polemik tentang ada-tidaknya suksesi kepemimpinan itu, serta perbedaan penafsiran atasnya. Menurut penulis, polemik tentang hal itu telah sering terjadi di antara ulama maupun tokoh Islam yang direkam di banyak buku, namun tak pernah ada titik temunya. Masing-masing memiliki keyakinan dan tafsirannya sendiri-sendiri yang bagi penulis keberagaman itu wajib dihargai, dihormati dan dipandang sebagai kekayaan khazanah intelektual Islam. Yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini adalah keyakinan Syiah tentang konsep politik Islam/ Mengapa? Sebab, pandangan dan keyakinan Syiah tentang hal itu relatif berbeda dan bisa menjadi alternatif guna memperkaya khazanah intelektual Islam dan menambah wawasan keislaman kita.

Tentu, berdasar ayat itu dan berbagai hadist pendukungnya yang diriwayatkan secara mutawatir, Syiah meyakini konsep politik Islam di zaman Nabi Muhammad adalah teokrasi (pemimpin dipilih langsung Tuhan melalui nash Qur'an dan ditegaskan oleh lidah suci Nabi-Nya). Karenanya, suksesi kepemimpinan dilakukan langsung oleh Nabi Muhammad berdasarkan perintah Tuhan. Dan, Syiah meyakini pemimpin setelah Nabi Muhammad adalah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, kemudian anaknya yang bernama Sayyidina Hasan, dilanjutkan adik Sayyidina Hasan yang bernama Sayyidina Husainserta terus berlanjut secara turun-temurun hingga imam ke-12 Syiah Imamiyah yang bernama Imam Mahdi.  

Mengapa di zaman para imamnya, Syiah meyakini konsep politik teokrasi? Pertama, karena Syiah meyakini konsep politik teokrasi sebagai konsep politik Islam yang ditopang oleh nash Qur'an dan hadist Nabi yang mutawatir. Kedua, karena Syiah juga meyakini bahwa para imamnya itu adalah manusia suci yang terbebas dari dosa (maksum) dan telah sampai pada puncak kebijaksanaan.Ketiga, karena dalam ajaran Syiah, tak ada konsep pemisahan antara agama dan politik. Bagi Syiah, keduanya integral. Keempat,karena di zamannya masing-masing, para imam Syiah itu juga didukung oleh masyarakat Muslim. Hanya saja, oleh rezim yang berkuasa, baik Bani Umayyah maupun Bani Abbas, para imam itu ditarik dan dijauhkan dari tengah-tengah umat dan rakyat, ditekan, dipenjara dan dibunuh, agar tak dinobatkan rakyat menjadi pemimpin agama sekaligus politik. Singkatnya, keyakinan Syiah akan teokrasi karena mereka memiliki nash dan argumentasi yang kuat yang menegaskan bahwa teokrasi merupakan konsep politik Islam di masa para imam maksum itu.

Namun, sebagaimana ditulis sejarah, para imam itu tak hidup sampai sekarang. Sejak tahun 329 H, imam ke-12 (imam terakhir) Syiah yang bernama Imam Mahdi ghaibah kubro (kegaiban besar). Artinya, sejak saat itu, tak ada lagi sosok imam atau pun wakil definitif imam di muka bumi. Maka, secara otomatis, menurut penulis, teokrasi seperti yang diyakini Syiah di masa hidup para imamnya 'pun tak berlaku. (Bersambung)

*)Pengamat Masalah Keislaman, Penulis Buku "Islam 'Madzhab' Fadlullah" (Mizan), Diskusi Lebih Lanjut Melalui Akun Twitter Pribadi Penulis di @Husen_Jafar
0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Minggu, 13 Januari 2013

Mempertimbangkan Tuhan-nya Anak-anak

Diposting oleh Coretan dinding di 22.39

Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*

Ironisnya, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin anak-anak terkait perkara teologis, sebagaimana juga kita lakukan pada mereka dalam soal agama. Kita ‘memaksa’ mereka untuk percaya pada Tuhan yang kita yakini. Sehingga, iman yang terbentuk dalam batin mereka adalah iman warisan yang turun-temurun sejak nenek moyang dahulu, seperti juga agama. Sehingga, terbentuklah kualitas iman sebagai sebuah tradisi, bukan keyakinan. Akibatnya, iman—juga agama— yang terbentuk sifatnya kaku, keras, jumud, tertutup, tidak toleran, dan seterusnya. Sebuah iman yang tak bisa kita pertanggungjawabkan saat dewasa, karena ia hadir sebagai warisan dan dianut lebih sebagai sebuah tradisi.
Pernahkah kita menyempatkan diri untuk mencari tahu, merenungkan atau sampai mempertimbangkan Tuhan-nya anak-anak? 
Seringkali kita tidak adil terhadap anak-anak, entah secara sadar ataupun tak sadar. Kita terlalu menyepelekan mereka. Kita sering memilih untuk bersikap otoriter, ketimbang demokratis, terhadap anak-anak. Terlebih dalam perkara teologis. Bahkan, untuk sekadar mendengar pendapat mereka tentang Tuhan, kita mungkin tak punya waktu atau bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang konyol. Kita memilih hanya bercanda dan bersenda gurau dengan mereka. Tak pernah duduk bersama, saling membuka pikiran dan berdiskusi soal Tuhan. 

Ironisnya, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin anak-anak terkait perkara teologis, sebagaimana juga kita lakukan pada mereka dalam soal agama. Kita ‘memaksa’ mereka untuk percaya pada Tuhan yang kita yakini. Sehingga, iman yang terbentuk dalam batin mereka adalah iman warisan yang turun-temurun sejak nenek moyang dahulu, seperti juga agama. Sehingga, terbentuklah kualitas iman sebagai sebuah tradisi, bukan keyakinan. Akibatnya, iman—juga agama— yang terbentuk sifatnya kaku, keras, jumud, tertutup, tidak toleran, dan seterusnya. Sebuah iman yang tak bisa kita pertanggungjawabkan saat dewasa, karena ia hadir sebagai warisan dan dianut lebih sebagai sebuah tradisi.
Padahal, jika sejenak kita berpikir dan menyadari, sebenarnya Tuhan-nya anak-anak adalah pemahaman tentang Tuhan yang lebih mengena. Pasalnya, dalam imajinasi dan pikiran anak-anak, Tuhan benar-benar diimajinasikan sebagai Dzat Yang Maha Sempurna; Dzat Yang Maha Baik, Dzat Yang Maha Pemaaf, Dzat Yang Bersahabat, dan seterusnya.
Mungkin manusia dewasa memang lebih berpengalaman dalam mengetahui teori-teori ketuhanan serta lebih sistematis dalam mencoba memahami Tuhan. Bahkan, mungkin kita memiliki pengetahuan (knowledge) dan pemahaman tentang Tuhan yang jauh lebih baik ketimbang anak-anak. Singkatnya, kita lebih rasional dan logis dalam memahami Tuhan. Adapun anak-anak cenderung mendekati Tuhan dengan imajinasinya masing-masing, yang sering kali dekat dengan sosok yang diidamkannya sebagai sosok sempurna; dari bayangan tentang Tuhan sebagai raja super besar yang duduk di singgasana langit hingga imajinasi tentang Tuhan sebagai sosok super hero terhebat melebihi sosok super hero yang dilihatnya di televisi atau komik. Singkatnya, basis pemahaman ketuhanan anak-anak adalah imajinasinya. Namun, seperti kata Albert Einstein, bukankah imajinasi itu lebih hebat dan berdaya dari pengetahuan (knowledge), termasuk dalam perkara memahami Tuhan?
Ironisnya, dalam peradaban manusia, imajinasi terlanjur berkonotasi rendah, bahkan negatif. Padahal, dalam perspektif filosofis, imajinasi bertentangan dengan konotasi yang berkembang selama ini. Imajinasi menempati posisi dan memiliki peranan penting serta strategis dalam epistemologi. Dalam khazanah spiritualitas Islam, yang meyakini adanya tiga tingkat pemikiran manusia, posisi imajinasi berada di tingkatan kedua, yakni di bawah spiritualitas-rohani dan di atas rasionalitas-logis. Bahkan,  Henry Corbin (filosof eksistensialis Prancis) ketika menjelaskan tentang imajinasi menyebutnya sebagai rasio yang terspiritualitaskan atau spiritualitas yang terasionalisasikan.
Dalam ranah imajinasi, kategori rasional-logis sudah tak sepenuhnya berlaku. Ia melampaui itu. Ia tak lagi terikat pada wadak (dimensi ruang dan waktu) dan gambaran yang dipakainya pun tak lagi sama dan sebanding dengan citra-citra (bendawi) alam dunia. Metafor-metafor menjadi sangat dominan di sini. Polanya bisa saja antah berantah alias tak runtun (kohern). Singkatnya, ia justru telah meninggalkan rasio-logis dan bergerak mendekat pada spiritualitas. Karenanya, kita akan lebih banyak menemui kesamaannya dengan spiritualitas ketimbang rasionalitas.
Adapun Tuhan merupakan dzat transenden. Dia mustahil terkonsepkan dan terbahasakan. Sehingga, konsep dan bahasa yang menjadi ciri dasar dari rasionalitas dan basis dari teologi itu, mustahil akan pernah bisa mendapat pemahaman utuh tentang Tuhan. Rasio hanya mampu mendekati dan meraba-raba saja tentang siapa Dia. Namun, ia tak pernah bisa sampai pada-Nya. Bahkan, sering kali, justru sederet konsep dan bahasa teologis yang rumit itu semakin mempersulit kita dalam mengenal Tuhan, dan akibatnya tetap membuat kita jauh dari pengenalan dengan-Nya. Juga, konsep dan bahasa itulah yang membuat kita saling beda, berdebat, hingga sentimen kepada siapa saja yang berbeda pandangan dengan kita soal Tuhan. 
Sedangkan imajinasi sudah bukan lagi tentang konsep dan bahasa. Ia sudah memakai simbol dan metafor. Ia sudah lebih punya kesamaan dan lebih dekat dengan spiritualitas. Karenanya, sebagaimana spiritualitas, ia lebih mampu mencapai Tuhan. Bahkan, para penempuh jalan spiritualitas (sufi) -misalnya, salah satu yang paling terkenal, Jalaluddin Rumi (sufi besar asal Persia)- menggunakan ‘bahasa’ imajinasi -yakni metafor dan simbol, seperti syair, puisi, irama, dll- untuk mengabarkan dan menjelaskan pengalaman religiusnya dengan Tuhan.
Dalam ranah imajinasi, Tuhan bukan lagi hadir untuk diperdebatkan, dengan sederet teori, konsep dan bahasa. Dalam imajinasi, bahkan Tuhan dipahami dan diimani secara sederhana. Namun, justru kerumitan teori ‘lah yang membuat kita merasa Tuhan begitu jauh dan tak hadir di tengah-tengah kita. Sebaliknya, kesederhanaan imajinasi justru menjadikan Tuhan begitu dekat dan benar-benar terasa hadir di tengah, bahkan dalam diri hamba-Nya. Sehingga, Dia bukan justru membuat kita saling debat, sentimen, apalagi bertengkar karena-Nya. Tapi, Dia justru menentramkan batin kita, membuat kita bergandengan tangan dengan sesama serta membuat hidup ini begitu indah. Itulah Tuhan-nya anak-anak. Tuhan yang berbasiskan imajinasi, bukan rasionalitas. Dan, karenanya, justru pada anak-anak ‘lah kita harus bertanya, belajar dan berdiskusi soal Tuhan. Sebab, mereka lebih dekat pada Tuhan, ketimbang kita.
Akhirnya, mungkin karena itulah, dalam novel filsafatnya yang fenomenal berjudul “Dunia Sophie”, Jostein Gaarder justru menjadikan gadis kecil bernama Sophie Amundsen sebagai tokoh utama. Gaarder membahas beragam misteri filosofis tentang manusia, alam dan tentu saja Tuhan, dalam ranah anak-anak (yakni imajinasi), bukan orang dewasa (yakni rasionalitas-logis). Dan, justru karena itulah novelnya itu menjadi novel filsafat tersukses dan terlaris di dunia yang telah diterjemahkan ke 53 bahasa dan terjual jutaan eksemplar. Melalui novel itu, kita bisa memahami perkara-perkara filosofis yang rumit (seputar alam, manusia dan Tuhan) justru karena Gaarder menjelaskannya dengan perspektif dan bahasa anak-anak yang imajinatif dan simpel, bukan dengan kerumitan konsep dan bahasa rasional-logis ala orang-orang dewasa. Maka, jika saat ini kurikulum 2013 masih digodok, jangan lupa untuk mempertimbangkan dan memberi porsi besar bagi imajinasi anak di sekolah-sekolah kita.   
* Peminat Studi Agama dan Filsafat, Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Jumat, 30 November 2012

Tipologi Kemerdekaan

Diposting oleh Coretan dinding di 03.26

Tipologi Kemerdekaan

Tipologi Kemerdekaan
Oleh Husein Ja'far Al Hadar 


Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kini, suasana kemerdekaan begitu kental menyelimuti setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai "ritual kebangsaan" dalam aneka-ragamnya kian memadati berbagai wilayah di seluruh penjuru Indonesia. Hal itu sebagai bentuk partisipasi aktif rakyat Indonesia dalam upaya memeringati dan mengisi momentum sakral dalam sejarah bangsa Indonesia.

Kemerdekaan merupakan sebuah cita-cita nurani luhur bagi setiap masyarakat dalam suatu tatanan kebangsaan dan kenegaraan. Pasalnya, kemerdekaan merupakan sebuah titik tolak bagi sebuah bangsa dalam upaya membentuk suatu pemerintahan yang berdaulat dan independen sesuai dengan cita-cita objektif seluruh elemen rakyatnya. Selain itu, era kemerdekaan ternilai sebagai sebuah era baru yang mampu memberikan jaminan bagi masyarakat suatu bangsa guna menuju suatu tatanan sosial masyarakat yang lebih ideal.

Dalam perkembangannya, terdapat beberapa tipologi yang tersusun secara vertikal-sesuai kedalaman pemahaman paradigmatik akan esensi serta eksistensinya-dalam tatanan masyarakat kita dalam memahami dan memaknai nilai-nilai esensial sebuah kemerdekaan. Tipologi terkait esensi kemerdekaan tersebut muncul seiring dengan beragamnya pemahaman paradigmatik seseorang akan sebuah kemerdekaan.

Pertama, kemerdekaan simbolik. Sebagian masyarakat kita cenderung memahami dan memaknai esensi kemerdekaan sebagai sebuah era terbebasnya tatanan sosial masyarakat dalam suatu bangsa dari tirani penjajahan asing yang bersifat hegemonik-eksploitatif. Dalam konteks ini, simbol kemerdekaan berupa proklamasi kemerdekaan 62 tahun silam ternilai sebagai titik awal sekaligus terpenuhinya kemerdekaan bangsa secara mutlak.

Kedua, kemerdekaan substansial. Dalam sisi yang berbeda, sebagian masyarakat cenderung memiliki paradigma yang lebih idealis serta relevan terkait esensi dan eksistensi dari sebuah kemerdekaan. Mereka cenderung memahami dan memaknai kemerdekaan lebih komprehensif, yaitu terbebasnya tatanan sosial masyarakat dari tirani-tirani penjajahan asing maupun berbagai bentuk "penjajahan internal" yang mungkin muncul dalam suatu era pascaproklamasi kemerdekaan 62 tahun silam.

Tipologi ini cenderung menjadikan kesejahteraan, egalitarian sosial-ekonomi, humanisme, serta kedamaian sebagai sebuah tolak ukur akan hakikat kemerdekaan. Tercapainya suatu tatanan masyarakat bangsa yang sejahtera dalam berbagai aspeknya merupakan titik awal kemerdekaan dalam perspektif tipologi ini. Sehingga, proklamasi kemerdekaan di era 1945 tidak dapat menjadi jaminan akan kemerdekaan dalam tipologi ini.

Ketiga, kemerdekaan struktural-universal. Dalam perspektif tipologi ini, esensi serta eksistensi sebuah kemerdekaan kian semakin mendalam dan fundamental. Tipologi ini lebih melihat hakikat kemerdekaan sebagai sebuah era terbebasnya suatu tatanan sosial kebangsaan masyarakat dari tirani "penjajahan global"-yang direalisasikan oleh sekelompok negara adikuasa yang cenderung bersikap hegemonik-dominatif-dalam tatanan politik global terhadap negara-negara lemah.

Selaras dengan tipologi kemerdekaan substansial, kemerdekaan struktural-universal pun cenderung bersifat abstrak selaras dengan keabstrakan rezim penjajahan yang muncul sebagai sebuah kekuatan hegemonik. Hegemoni dan tekanan secara struktural yang menimpa suatu bangsa dalam tatanan masyarakat global merupakan tolok ukur keterjajahan suatu bangsa dalam tipologi ini.

Selaras dengan hal itu, terlepasnya suatu bangsa dari sebuah struktur tirani global yang hegemonik dan monopolistik serta terbentuknya sebuah kemandirian global bagi suatu bangsa dengan idealisme politik sendiri merupakan tolok ukur kemerdekaan dalam tipologi ini. Oleh karena itu, dalam tipologi ini, terlepasnya suatu bangsa dari jeratan struktur tirani global-dengan beragam motifnya-yang hegemonik dan monopolistik merupakan hakikat serta eksistensi akan sebuah kemerdekaan.

Akhirnya, bertolak dari deskripsi tiga tipologi kemerdekaan tersebut nantinya diharapkan hal tersebut mampu menjadi objek refleksi dan tolok ukur bagi masyarakat kita akan esensi serta eksistensi kemerdekaan yang kita rasakan dan kita peringati saat ini. Deskripsi tiga tipologi kemerdekaan itu penting guna memotivasi seluruh elemen masyarakat kita agar terus meningkatkan esensi dan eksistensi kemerdekaan bangsa ini. Ke depan tentu kita ingin menuju era yang lebih ideal sebagaimana menjadi cita-cita kolektif seluruh rakyat Indonesia.***


Penulis adalah Ketua Lembaga Study of
Philosophy (Sophy) Jakarta, tinggal di Jakarta

Dimuat pada Selasa, 21 Agustus 2007 http://www.suarakarya-online.com

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)

Diposting oleh Coretan dinding di 03.18

Oleh : Husein Ja'far 

Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakni pada tanggal 10 Muharram. Namun, tradisi itu merekam tragedi itu sejak Sayyidina Husain mengawali perjalanannya di tanggal 1 Muharram. Pasalnya, secara historis-religius, 9 hari perjalanan Sayyidina Husain menuju Karbala bernilai historis dan religius yang penting dan mendalam. Dalam rangkaian perjalanan itu, ada sederet hikmah religius tentang kepemimpinan, perjuangan, perdamaian, perubahan, dll yang merupakan nilai-nilai dasar dalam Islam. Karenanya, setiap detik dalam hari-hari perjalanan itu patut dihayati dan direnungkan sebagai hikmah dalam Islam yang diturunkan Alah melalui perjuangan Sayyidina Husain. Dan, masyarakat budaya Tabot merangkum 9 hari perjalanan itu dalam 9 simbol budaya yang kemudian membentuk tradisi Tabot.

Pertama, mengambik tanah (mengambil tanah). Tanah yang diambil dalam prosesi ini merupakan tanah yang dianggap keramat (sebagai simbolisasi dari Tanah Karbala). Ritual ini juga menyiratkan pesan kepada manusia agar selalu mengingat asal penciptaannya yang tak lain dari tanah.

Kedua, duduk penja (mencuci jari-jari) merupakan simbolisasi dari ketangkasan Sayyidina Husain dalam memperjuangkan Islam dengan tangan dan jari-jarinya hingga beliau wafat dalam keadaan kepala terpenggal. Ritual ini dilakukan setiap tanggal 4 Muharram yang tak lain merupakan simbolisasi dari doktrin Islam yang menganjurkan setiap orang untuk memandikan jenazah saudaranya yang telah wafat, sebelum dimakamkan. Secara khusus, duduk penja merupakan simbolisasi memandikan jenazah Sayyidina Husain yang saat itu jenazahnya bahkan tak dimandikan.

Ketiga, menjara (berkunjung) yang berisi nilai-nilai akhlak. Dalam ritual ini, setiap tanggal 6 dan 7 Muharram, masyarakat budaya Tabot dianjurkan saling mengunjungi kerabat merekauntuk mempererat tali silaturrahmi.

Keempat, meradai (mengumpulkan dana). Ritual ini dilakukan pada 6 Muharram sebagai simbolisasi solidaritas sosial-ekonomi sesama manusia, khususnya antara masyarakat budaya Tabot di sana.

Kelima, arak penja (mengarak jari-jari) dilakukan setiap tanggal 8 Muharram sebagai simbolisasi atas anjuran bersikap damai dan memafkan dalam Islam. Sebab, kala itu Sayyidina Husain sebenarnya tak datang untuk berperang, tapi berdamai. Hanya saja, kekejaman tentara Yazid yang telah dibutakan oleh kekuasaan telah menjadikan mereka begitu sadis membantai Sayyidina Husain hingga jari-jarinya terpisah dari tangannya. Melalui ritual arak penja, masyarakat budaya Tabot mensyiarkan agar tragedi semacam itu tak lagi ada dalam sejarah Islam.

Keenam, arak sorban (mengarak sorban). Sorban yang diarak dalam ritual ini merupakan duplikat dari sorban yang dipakai Sayyidina Husain. Sorban di sini merupakan simbol kebenaran. Sehingga, ritual itu dipahami sebagai simbolisasi menjunjung tinggi perjuangan mempertahankan kebenaran, seperti yang ditunjukkan oleh Sayyidina Husain.

Ketujuh, gam (masa tenang). Ritual ini dilakukan sehari sebelum hari wafatnya Sayyidina Husain, yaitu pada 9 Muharram. Pada hari itu, tak ada kegiatan apapun dalam ritual Tabot. Sebab, hari itu dipahami sebagai hari keprihatinan dan berkabung atas kematian yang akan menjemput saudara Muslim bernama Sayyidina Husain pada keeeokan harinya. Menurut Husain Bahreisj (1987), ritual ini merupakan aplikasi dari hadist Nabi yang berbunyi;“Sesama Muslim adalah saudara bagai satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya juga akan merasakan sakitnya.”. Melalui ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharap akan merasakan keprihatinan yang terjadi pada rombongan Sayyidina Husain beserta keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala berabad-abad lalu.

Kedelapan, arak gedang (pawai besar). Ini merupakan momentum bertemunya seluruh gerga (kelompok peserta upacara Tabot) di Jalan Protokol dan berjalan bersama menuju Lapangan Merdeka. Ritual ini menyimbolkan anjuran persatuan dan merapatkan barisan dalam satu pawai besar bagi umat Islam dalam melumpuhkan musuh-musuh Islam dan memperjuangkan Islam dengan semanagat juang tinggi yang disimboisasi dengan penabuhan dol(gendang) sebagai penyemangat.

Kesembilan, tabot tebuang. Ini merupakan prosesi terakhir dalam rangkaian upacara Tabot yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram. Ritual ini merupakan simbolisasi masyarakat budaya Tabot dalam mengkafani, menyalatkan dan menguburkan Sayyidina Husain yang kala itu tak dikafani, tak disalati dan tak dikuburkan oleh pasukan Yazid. Dalam ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharapkan dapat menghayati nilai-nilai dan ajaran Islam tentang bagaimana memperlakukan jenazah Muslim secara kemanusiaan dan sesuai tuntunan Islam.

Ritual terakhir tersebut dilakukan di Pemakaman Umum Karbela di kawasan Padang Jati, Bengkulu, tempat dimakamkannya Syekh Burhanuddin (atau lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo di Bengkulu), pelopor tradisi Tabot itu sendiri. Menurut DR. Harapandi Dahri (2009), mengutip dari Ir. A Syafril Syah (Ketua Kerukunan Keluarga Tabot), nama Karbela itu juga sengaja diadopsi dan ditiru dari nama Karbala di Irak, tempat kematian Sayyidina Husain. Hal itu dilakukan agar masyarakat budaya Tabot selalu mengenang Tragedi Karbala dan berharap kawasan itu menjadi pusat dakwah dan budaya Islam.***

* Husein Ja'far Al-Hadar adalah Peminat Studi Keagamaan & Filsafat dan Penulis buku "Islam "Madzhab" Fadlullah"
Dimuat mizan.com

0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Sponsored

  • banners
  • banners
  • banners
  • banners


ads







Blog Archive

  • ▼  2014 (1)
    • ▼  September (1)
      • Perlunya Ilmu Kematian
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Followers

TopMenu

  • Beranda
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
  • Suro dan Kesakten
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
  • Tipologi Kemerdekaan

Jendela Dinding

Coretlah apapun
Jikapun ditanya
jawabnya "tidak tahu"
Sampai lelah mencoret dinding

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Post

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • MENGENANG IRAK, MEWASPADAI SURIAH
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar*) Dalam The Future of Islam (terj: Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan denga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Perlunya Ilmu Kematian
    Perlunya Ilmu Kematian Oleh : Emha Ainun Najib Engkau tentu ingat bahwa puasa terkadang dipakai sebagai alat politik. Sering baca ...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Racun Penawar
    Seikat rerumputan yang arbitrer Terlihat jelas daun kering kerontang Seisap racun penawar gelisah Semakin tak menentu perlawanan a...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Janganlah “T” Walau bukan “Y”
    Janganlah “T” Walau bukan “Y” Mengapa tak kau biarkan diriku mengambang di antara “Ya atau Tidak”, itulah yang akan kudapat Tapi ...

Mengenai Saya

Coretan dinding
Lihat profil lengkapku

Pengikut

Statistik

Iklan

@coretan2dinding

Blog Archive

  • ▼  2014 (1)
    • ▼  September (1)
      • Perlunya Ilmu Kematian
  • ►  2013 (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2012 (9)
    • ►  November (9)

Cari Blog Ini

Postingan Populer

  • Puisi Untuk Ayah-Pramoedya Ananta Toer
    Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pul...
  • Muharram, Asyuro & Tradisi Tabot di Bengkulu (Bag. 2)
    Oleh : Husein Ja'far  Tabot merupakan tradisi memperingati Tragedi Karbala bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakn...
  • Suro dan Kesakten
    Bulan Suro merupakan berbagai intisari dari embrio keluhuran masyarakat Jawa. Karena juga awal bulan dalam pergantian Tahun dan semua rum...
  • Mustahil
    Mustahil Mustahil Mungkin itulah men-jadi Mustahil Hilangnya ke-aku-an Mustahil Tantangan dan lecut Mustahil Tak mengena...
  • Tipologi Kemerdekaan
    Tipologi Kemerdekaan Tipologi Kemerdekaan Oleh Husein Ja'far Al Hadar  Telah 62 tahun bangsa ini meraih kemerdekaan. Kin...
  • Menimbang Penerjemahan Teks Filsafat
     Husein Ja’far al-Hadar: Direktur Lembaga Study of Philosophy (Sophy) Jakarta. DALAM pengantarnya untuk buku  Our Philosophy  (terjema...
  • Betinaku
    Sejengkal nafas ini masih kuhirup anggur senyummu Legowo, meskipun darahku addicted suaramu Beribu kicau tak terdengar jelas Ga...
  • Islam dan Politik
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar Sumber : http://islam-indonesia.com/opini/813-islam-dan-politik  Di antara sederet manfaat Twitter, sa...
  • Air Menanti Hidup Mengerti
    Andai kaktus tak berduri Habislah riwayatnya... Simbolnya pohon buruk ini Bahkan dia mampu bertahan akan panas sahara tak malu...
  • Mempertimbangkan Tuhan-nya Anak-anak
    Oleh : Husein Ja’far Al Hadar* Ironisnya, yang justru sering kita lakukan adalah mendoktrin anak-anak terkait perkara teologis, sebag...

Langganan

Postingan
Atom
Postingan
Semua Komentar
Atom
Semua Komentar
 

© 2010 My Web Blog
designed by DT Website Templates | Bloggerized by Agus Ramadhani | Zoomtemplate.com